Friday, September 4, 2009

Dari Besuki,ke Hari Jadi Kota Situbondo ....?

Victoria,BC
September 5 2009

Tulisan Ini saya Post-kan buat memperingati Hari jadi Kota situbondo.

Secara administratif, Besuki masuk wilayah kecamatan di Kabupaten Situbondo, namun budaya dan dialek bahasa Madura masyarakatnya justru sama dengan orang di Kabupaten Bondowoso.

Masyarakat Besuki dan Bondowoso memiliki budaya dan dialek yang sama dengan masyarakat di Pamekasan, Madura, sedangkan masyarakat di wilayah Panarukan, Kabupaten Situbondo ke timur memiliki kesamaan budaya dengan Sumenep.

Kesamaan budaya itu, menurut tokoh masyarakat Besuki, karena kedekatan Ke Pate Alos, demang pertama di Besuki dengan pembabat Alas di Bondowoso, yakni Ki Bagus Asra atau dikenal Ki Ronggo.

Ia menjelaskan, pada perkembangan pemerintahan di Besuki yang dipegang oleh Raden Sahirudin Wiroastro alias Wirodipuro II tersingkirkan setelah Belanda menerapkan politik adu domba.

Saat itu Belanda mendirikan pemerintahan di Panarukan yang pimpinannya masih ada hubungan keluarga dengan Raden Sahirudin. Akhirnya keluarga dan keturunan Sahirudin Wiroastro lari ke Bondowoso.

Keluarga itu, mendapatkan tempat terhormat dari keluarga Ki Bagus Asra (Ki Ronggo) yang juga berasal dari Madura. Ki Ronggo memiliki ikatan yang kuat dengan Ke Pate Alos karena pernah berguru kepadanya.

Bahkan ketika Ki Ronggo membabat alas di Bondowoso juga atas perintah Ke Pate Alos.


ketika di Bondowoso dibentuk pemerintah, maka bupati pertamanya adalah Raden Abdurahman Wirodipuro yang merupakan cicit dari Ke Pate Alos. Hal itu dilakukan sebagai bentuk balas budi dan penghormatan Ki Ronggo kepada gurunya, Ke Pate Alos.

Raden Abdurahman Wirodipuro itu dilantik menjadi Bupati Bondowoso tahun 1850 M berdasarkan besluit Nomor 3 tertanggal 17 Oktober 1850 yang dikeluarkan Belanda. Beliau memerintah hingga tahun 1879 dan kemudian digantikan oleh menantunya, Raden Aryo Tumenggung Wondokusumo.

Tidak hanya ikatan antar keturunan guru dengan muridnya, pada perkembangan berikutnya, tidak sedikit masyarakat Besuki yang lebih memilih Bondowoso untuk memenuhi kebutuhannya, termasuk ketika keluarganya sakit. Mereka banyak yang memilih berobat ke Bondowoso, meskipun jarak Besuki ke Kota Situbondo dengan jarak Besuki ke Kota Bondowoso sama-sama sekitar 35 Km.

Mantan Kepala Seksi Kebudayaan pada Dinas P dan K Kabupaten Bondowoso, Hapi Tedjo Pramono mengakui bahwa masyarakat Besuki memiliki akar sejarah yang sama dengan Bondowoso.

Kota Besuki, memiliki letak yang sangat strategis karena berada di perlintasan utama kota besar di Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya menuju - Bali lewat jalur darat.

Kota kecamatan yang kini menjadi bagian dari Kebupaten Situbondo, Jawa Timur itu sebetulnya memiliki sejarah panjang sebagai salah kota penting di Nusantara ini.

Namun, nasib kota itu seperti mengulang kisah masa lalu yang pernah digadaikan oleh Belanda kepada seorang saudagar keturunan Tiong Hoa di Surabaya. Kota itu kini seolah tetap tergadaikan meskipun masyarakatnya sebetulnya tidak menginginkan hal itu.

Misalnya, Besuki hanya dijadikan nama untuk polisi wilayah (Polwil) yang markasnya ada di Kabupaten Bondowoso atau badan koordinator wilayah (Bakorwil) di bawah Pemprov Jatim.

Kebesaran nama Besuki itu hanya digunakan sebagai penanda, sementara sang pemilik sepertinya tidak memperoleh "imbalan" apa-apa, misalnya sekedar melestarikan warisan kebesaran sejarahnya.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pariwisata Kabupaten Situbondo, Agus Cahyono mengakui bahwa dari sisi sejarah, Besuki merupakan aset nasional.

"Besuki itu dulunya kota yang cukup besar, namun kemudian statusnya 'melorot' (turun) terus hingga kini menjadi kecamatan. Karena itu, sampai sekarang di kepolisian masih menggunakan nama Polwil Besuki, meskipun markasnya di Bondowoso," ujarnya.

Ia mengemukakan, Besuki pernah menjadi keresidenan dan pada saat lembaga itu diubah menjadi nama pembantu gubernur, kantornya tidak lagi di Besuki, melainkan di Bondowoso.
Setelah itu pindah ke Jember dan saat ini bergabung dengan Bakorwil di Malang.

Sejarah Kota Besuki bermula dari diangkatnya Raden Bagus (RB) Kasim Wirodipuro sebagai demang pertama di Besuki. Kasim kemudian dikenal dengan nama Ki Pati Alos dan masyarakat Besuki menyebut Ke Pate Alos.

RB Kasim dilantik menjadi Demang Besuki oleh Tumenggung Joyo Lelono yang berkedudukan di wilayah Kabupaten Probolinggo sekarang. Beliau dilantik pada Sabtu manis, 8 September 1764 M, atau 12 Robiul Awal 1184 H. Pada Saat itu lah Nama Besuki di sebut sebut.

Tumenggung Joyo Lelono pernah berpesan, dengan nama Besuki, maka siapa yang berniat jelek terhadap Ke Pate Alos, maka perbuatan itu akan kembali ke dirinya sendiri. Mengenai arti Besuki itu sendiri, saya belum mendapat kejelasan.



Mungkin saja itu dari Bahasa Jerman ”Besuch” karena menurut informasi, tentara Belanda zaman dulu juga banyak yang berasal dari Jerman. Mungkin Besuki itu dulu tempat untuk membesuk, meskipun belum jelas maksudnya membesuk apa,?

Dalam perkembangannya, pemerintahan pimpinan Ke Pate Alos, Besuki bertambah maju. Ke Pate Alos yang memimpin kademangan itu dengan berlokasi di utara alun-alun Besuki atau dikenal sebagai "dalem tengah" mendapatkan penghargaan dari Tumenggung Joyo Lelono.

Ke Pate Alos kemudian dilantik menjadi Patih Besuki pada tahun 1764. Dengan pengangkatan itu, maka status Besuki sebagai wilayah kedemangan naik menjadi setingkat kabupaten.

Pada perkembangan berikutnya, menurut dia, Besuki digadaikan oleh Belanda kepada seorang saudagar Cina muslim di Surabaya bernama, Han Boei Sing, sekitar tahun 1770. Diduga Belanda menggadaikan wilayah Besuki karena membutuhkan uang dalam jumlah banyak.

Namun belum ditemukan fakta berapa nilai uang yang diterima Belanda saat itu. Karena Besuki berada di bawah kekuasaan Han Boei Sing, maka ia mengangkat seorang wali dengan pangkat Ronggo di Besuki dan berlanjut hingga sekitar enam Ronggo. Ronggo itu adalah pangkat.

Menurut dia, pada saat Ronggo di Besuki dijabat oleh Suro Adiwijoyo yang juga Cina muslim, pada sekitar tahun 1805, didirikan bangunan bersejarah di Besuki, seperti gedung keresidenan dan kewedanan serta masjid jamik," katanya.

Besuki kemudian ditebus oleh Gubernur Jenderal Raffles pada tahun 1813 senilai 618.720 Gulden. Data itu ia dapatkan dari catatan yang ditulis J. Hageman, J. Cz. dengan titel Soerabaia, Februari 1864 .

Sekitar 13 tahun sebelum tebusan itu dilakukan, Ke Pate Alos meninggal. Pemerintah selanjutnya diteruskan oleh anak keturunannya. Ke Pate Alos dimakamkan di Kauman Barat atau Kampung Arab, Besuki.

Makam itu kini dikeramatkan dengan dikunjungi banyak orang untuk ziarah. Pada setiap malam jumat, Moh. Hasan Nailul Ilmi memimpin istighasah di makam tersebut bersama ratusan jamaahnya.

Namun, kemungkinan tidak banyak dari peziarah itu tahu, bahwa Ke Pate Alos itu dulunya pernah menjadi 'penguasa' di Besuki, kota tua yang dulu pernah "tergadaikan"

Menurut Beberapa sumber mengatakan tonggak berdirinya Besuki menjadi tonggak hari jadi kota Situbondo pula,namun ada yang mengatakan Hari jadi kota Situbondo adalah 19 September...terlepas dari perbedaan Presepsi tersebut menurut saya harus di kaji lebih Dalam,mangambil titik temu beberapa presepsi adalah penting,tapi yang harus lebih di pentingkan adalah apa yang telah dan akan kita Lakukan Untuk kemajuan Kota ini.


Wassalam

Fajar D Herdian

dari berbagai sumber
dan arsip Nasional.

Monday, August 31, 2009

Situs Bersejarah di Puncak Gunung Argopuro

Argopura bisa diartikan "Gunung Pura" atau barangkali bisa disebut Pura di Puncak Gunung, seperti banyak ditemukannya struktur bangunan berarsitek mirip Pura (tempat peribadatan umat Hindu) dikawasan puncak, berawal dari situlah gunung ini beroleh nama Argopuro.Di puncak Gunung nan indah ini di jumpai reruntuhan bangunan dan tinggal puing-punig yang berserakan dan ditumpuk begitu saja seolah tak bernilai sejarah. sisa-sisa reruntuhan itu masih nampak jelas, ada beberapa situs purbakala di sekitar kawasan puncak Argopuro.


kawasan puncak yang dimaksud meliputi ketinggian 3.088 meter dari permukaan laut ke atas, yang didalamnya mencakup areal seluas hampir satu km persegi, yang didalamnya terdapat komplek bukit dan alun-alun, komplek kawah dan komplek candi.

Komplek bukit dan alun-alun merupakan pintu masuk kawasan puncak, sebuah alun-alun yang luas dipegunungan Hyang Argopuro. Alun-alun ini dibatasi langsung oleh sebuah kawah dengan lubang dalam., sedangkan disebelah timur masih terdapat lima kawah, baik lubang maupun tempat yang dinamakan alun-alun SIJEDING.

Komplek candi yang dimaksud bukan candi dalam arti sebenarnya, melainkan merujuk dari jenis peninggalan dan struktur bangunan sejarah kepurbakalaan yang terdapat di gunung ini. Jumlah seluruhnya ada tujuh komplek meliputi situs kolam dan taman sari, Situs Puncak Rangganis, dua bangunan candi, dan tiga bangunan pura.

Masyarakat sekitar lebih mengenal Rengganis ketimbang Argopuro. Rengganis sebuah nama seorang DEWI yang begitu melekat di hati masyarakat kaki gunung Argopuro. Konon menurut legenda penduduk setempat, dari sanalah Dewi Rengganis tinggal dan memerintah kerajaannya. Diceritakan pula bahwa alun-alun Rawa Embik adalah sebuah padang rumput dibawah alun-alun puncak adalah sumber mata air yang terus mengalir sepanjang tahun. Tempat itu merupakan padang penggembalaan hewan ternak yang mensuplai kebutuhan keraton di puncak.

Dituturkan bahwa Dewi Rengganis adalah salah seorang Putri dari Prabu Brawijaya ke….? yang lahir dari salah satu selirnya. Karena tidak diakui keberadaannya, pada saat dewasa ia didampingi seorang Patih dan pengikut-pengikutnya yang setia melarikan diri dan mendirikan kerajaan keraton di puncak gunung ini.

Diperkirakan puing-punig yang terdapat di Rengganis suatu peninggalan tertinggi yang ditemui di Pulau Jawa adalah bekas Kuil Hindu abad ke 12 Masehi. Situs Rengganis memperlihatkan aspek rancang bangun jaman prasejarah dan jaman klasik akhir di pulau Jawa. Salah satu hal yang paling menonjol dari peninggalan kepurbakalaan di Rengganis, adanya tembok pagar luar yang mengelilingi bangunan serta struktur bangunan lebih memperlihatkan struktur Pura daripada Candi.

Satu hal yang tidak dijumpai pada peninggalan kepurbakalaan masa Majapahit akhir yang berada di gunung-gunung lain seperti Gunung Penanggungan, dan Gunung Arjuna. Benarkah struktur bangunan yang disebut PURA sesuai dengan Pura dalam arti dan fungsi yang sesungguhnya pada saat ini? Ataukah Pura itu adalah sebuah Candi dengan model lain. Benarkah Komplek kuno yang ada dalam pesantren dimana para Resi, Pendeta atau Biarawan menghabiskan waktu untuk tinggal dan belajar di Puncak ini?
Ataukah memang suatu komplek keraton?

Tempat peribadatan disini belum bisa memastikanbentuk tradisi dari aliran dan sekte apa para Rahib itu semua. Terlepas apakah itu keraton atau karesian dapatkah dibayangkan bagaimana Perikehidupan dan aktifitas yang dilakukan sehari-hari di Puncak Gunung yang indah, dingin, dan terpencil itu pada jaman alam masih liar yang waktu itu masih buas.

Legenda tinggallah cerita turun temurun dari mulut ke mulut yang semakin bias dan sulit dibuktikan secara ilmiah. Hipotesa dari penyelidikan terdahulu belum seluruhnya terbukti. Sebagian besar data masih berupa misteri dan beberapa benda-benda bernilai sejarah itu telah hilang dan dihancurkan. Menurut penduduk sekitar sekitar tahun 80-an Situs Purbakala di Gunung Argopuro masih nampak terawat dan masih belum banyak benda yang hilang, selepas itu kini situs Purbakala itu semakin rusak, kotor dan bangunan dengan teras-teras berdinding batu itu tinggalah batu-batu berserakan yang dihiasi bungkus mie instan. Sejumlah Arca dari Gunung ini telah terpencar oleh ulah orang-orang yang tak bertanggungjawab sebagian ada yang ditemukan di Gunung Semeru dan tempat lainnya. Justru para peziarah lokal yang memberi sesajen persembahan dan membersihkan lingkungan ini, secara tidak langsung telah menjaga dan merawat keberadaan benda-benda yang bernilai sejarah?
Sebelum tahun 80-an di kabarkan bahwa komplek candi di puncak Argopuro hampir tak tersentuh tangan usil, bersamaan dengan banyaknya orang yang berkunjung bersamaan dengan itu pula mulai hilang satu persatu bentuk candi itu perlahan lahan hanya menyerupai tumpukan batu,bahkan ada arca yang hilang kepalanya!??
Bagai mana dengan Kita? Pedulikah kita akan situs bersejarah yang jelas jelas berada di wilayah kota ini? ada kah Peninggalan berbentuk candi di kota ini selain di sini?

Wassalam

Fajar Dwi herdiyan

Saturday, August 29, 2009

Lestarikan Peninggalan bersejarah Di kota ini


Suikerfabriek op de onderneming Pandji bij Kapongan bij Sitoebondo 1864-1880

Assalamualaikum,

Harian Belanda de Volkskrant beberapa saat lalu menyoroti
kondisi pabrik pabrik gula di Situbondo, Indonesia yang terbengkalai selama 50 tahun. Pabrik gula
Olean di Situbondo masih menggunakan tenaga uap seperti ketika dibangun oleh
perusahaan Hoboken Rotterdam tahun 1849. Selain Olean,Situbondo, Jawa Timur juga mengenal 16 pabrik gula yang hampir semuanya bikinan Belanda. 100 tahun lalu para pengusaha gula mengeruk keuntungan dari gula kualitas tinggi. Kala itu Jawa Timur adalah gudang gula terbesar dunia setelah Kuba. Pabrik gula Jatiroto saat itu terbesar di dunia.

Pabrik-pabrik itu telah lama ditinggalkan pendirinya, tapi sampai detik ini
masih bekerja memeras tebu. Tahun 1957 perusahaan-perusahaan Belanda
dinasionalisasikan. Dan sejak itu hampir tidak ada upaya modernisasi pabrik
gula. Paling banter hanya mengganti mesin yang rusak. Saat inipun tidak cukup
tebu untuk diolah. Jaman Belanda dulu petani wajib menanam tebu pada sepertiga
lahannya. Kewajiban itu sekarang tidak ada lagi, dan karenanya Indonesia harus
mengimpor gula. Setiap tahun dibutuhkan 3,3 juta ton gula, sementara yang di
produksi hanya 2,2 juta ton. Impor gula ini merupakan kenyataan pahit, yang
juga harus mengimpor minyak, padahal Indonesia punya banyak minyak dan gas.
Impor ini membuktikan betapa ceroboh Indonesia mengelola kekayaan alamnya.
Demikian de Volkskrant.

Direksi PTPN XI sedang menggarap rencana penyelamatan industri gula. beberapa
pabrik akan ditutup, sebagian lagi akan digabung dan diperluas untuk
meningkatkan produksi. Di seluruh Indonesia bakal ada delapan pabrik besar
baru. Ini tetap merupakan kerja tambal sulam, de Volkskrant mengutip Rene van
Sloten, utusan organisasi pensiunan manager Belanda. Menurut Van Sloten, pabrik gula Olean di Situbondo dinobatkan sebagai pabri uap terindah di dunia. Mungkin satu satunya pabrik di dunia dengan mesin uap yang masih bekerja penuh. Karenanya harus dilestarikan.
Peninggalan Bersejarah yang setidaknya telah mengukir nama Kota Situbondo di mata dan dunia International terbengkalai begitu saja,tanpa adanya pihak yang peduli atau merasa berkewajiban,(paling tidak terpanggil untuk melestarikan)
Membuat kita miris,Kalau kita tilik Kota kota di Amerika yang telah melahirkan suatu moment sejarah yang mengukir nama kota tersebut,warga berlomba lomba untuk menjadikan peninggalan bersejarah tersebut sebagai daya tarik para Turis dari daerah lain untuk menyaksikan dan mempelajari suatu peristiwa sejarah yg pernah terjadi.sebut saja Alamodi texas,independece building di Pensilvania,gereja rusia ortodox di Sitka Alaska,dan banyak lagi.mereka sadar selain memberikan pengetahuan kepada para kaum muda juga bangunan tersebut akan mendatangkan penghasilan bagi warga sekitar juga devisa negara bagian tersebut.
Di bandung dan Jakarta telah sejak lama Lahir suatu organisasi non profit yang mencoba melestarikan peninggalan Zaman Kolonial belanda,karena identitas kota kota tersebut tergali sampai jaman kolonial,di Jakarta misalnya tidak akan pernah di temukan adanya Candi atau peninggalan zaman nenek moyang pra Kolonial,yng di punyai jakarta hanya peninggalan zaman Belandadan jepang.dari titik tolak itu jakarta terpanggil untuk melestarikan apa yang mereka punya.
Tidak kah kita terpanggil untuk ikut serta melestarikan apa2 yang telah di tinggalkan oleh Kolonial Belanda di kota ini.Dam sungai sampean misalnya di bangun oleh seorang politikus dan arsitek enginering belanda bernama Hendrikus Hubertus van Kol pada 1876.
(kalau kita liat sekarang keaadaan Dam tersebut kita akan berkata” apa maksud Van Kol membangun dam sepanjang kira kira 600 m dari ujung selatan sampai utara?bukankah aliran sungai sampean di muara dam sampean kecil?atau bahkan kering pada musim kemarau!sebagai seorang enginer Van kol tahu betul keadaan alam di daerah Bondowoso dengan memperkirakan curah hujan dan musim beliau bisa memperhitungkan daya bendung dan volume air yang di kirimkan dari bondowoso ke kota situbondo.pada masa pembangunan dam tersebut dam muara sungai sampean tidak lah sekecil sekarang melainkan aliran sungai terbendung sampai ujung utara(kalau tidak salah di bawah dam itu dulu ada lapangan Tenis)begitu banjir dikirim dari bondowoso air akan mencapai bibir dam dan pintu dam di selatan pun akan segera dibuka,sebaliknya pintu dam yang ke arah kota akan di perkecil.dengan kedalaman dam muara sungai banjir pun dapat di atasi.kita lupa bahwa bantaran sungai tidak seharusnya di jadikan perumahan penduduk,akibatnya perlahan sungai akan mengecil dan terjadi pendangkalan akibat sampah dan limbah rumah tangga.saat terjadi banjir kapasitas sungai yang asli terusik debit air yg seharusnya melebar jadi meninggi.dam di rancang untuk tidak menampung air setinggi yang di terima saat terjadi banjir beberapa tahun silam akibat nya aliran air meluber dan mengerus meluluh lantakkan apa saja yng menghalangi jalan nya dahulu…
Saya kira bila kita menghargai apa yg telah di wariskan oleh seorang pemikir belanda saat itu kita tidak akan mengalami musibah tersebut…
Itu hanya salah satu kerugian yang kita terima,tetapi sebaliknya bila saat itu kita tidak tergerak untuk mengusik (sengaja maupun tidak?)anda bisa memperkirakan apa yg akan terjadi.!!!


Wassalam,
Fajar Dwi Herdian

Friday, August 21, 2009

"The 6th overseas Chinese State" Nanyang Huaren,

Quoted from "The 6th overseas Chinese State" Nanyang Huaren, 1990

Demak

During the last decades of the 15th century the kingdom of Demak
which lasted from 1475 to 1568 was founded. Its founder was the son
of Haji Chen Xuanlong/Tan Swan Liong from Palembang in Southern
Sumatra where at that time existed a large Chinese community
consisting mainly of Muslims. His son's name is Chen Jinwen alias
Raden Patah/Panembahan Tan Jin Bun/Arya (Cu-Cu)
Sumangsang/Prabu Anom. The Portuguese addressed him as Pate
Rodin Sr. According to Tome Pires, a Portuguese explorer, he was
a "persona de grande syso" (a great man of exceptional wisdom),
a "cavaleiro" (noble knight). Indonesian professor Slamet Mulyana
explained that Jinwen or Jin Bun means "strongman".

The ruling elite of the kingdom of Demak consisted mainly of Chinese.
Before the European colonial area, intermarriage between Chinese and
the Javanese natives were commonplace. Dr. Pigeaud and Dr. de Graaf
described the conditions in the 16th century as follows: in the port cities
of the island of Java the ruling elites consisted mainly of Chinese
families, some of whose male members took Javanese women as their
wives. Various Javanese historical sources say that in the 16th century
there were many Chinese living in the cities along the Northern coastline
of Java. Apart from Demak, they were also numerous in Cirebon,
Lasem. Tuban, Gresik (Shi Chun) and Surabaya (Shi Shui). Many of
these Chinese Muslims had Arabic names.

One of Raden Patah Chen Jinwen's grandsons is known to have had the
ambition of being on par with the Turkish Sultan of the Ottoman empire.
According to de Graaf and Pigeaud, Chen Muming/Tan Muk Ming (Sunan
Prawata), the last Sultan of Demak said to Manuel Pinto that he was
striving as hard as possible to become "o segundo Turco" (the second
Turkish Sultan) equal to the Ottoman Sultan Suleiman I in grandeur. It
is evident that other than going on a haj pilgrimage, he visited Turkey.

A number of Javanese sources emphasise that the sultans of the Demak
sultanate were Chinese. It is not possible to include all the names of
Chinese historical figures for the number of which is too many. Amongst
others there were Raden Hussein (Pang Jinshan/Bong Kin San, a cousin
of Chen Jinwen), Sunan Bonang (An Wen'an/An Bun Ang), Sunan Drajat
(Pang Dajing/Bong Tak Keng) son of Sunan Ampel alias Rahmat Pang
Suihe/Bong Swie Ho), sunan Kalijaga (Gan Xichang/Gan Si Chang),
Sunan Kudus (Jaffar Zha Dexu/Ja Tik Su), Haji Maulana Ifdil Hanafi Chen
Yinghua/Tan Eng Hoat, Endrasena the last commander-in-chief of
Sunan Giri's armies, Pangrean Hadiri alias Sunan Mantingan who was
the husband of Ratu Kalinyamat, Ki Rakim, Nyi Gede Pinatih (Shi
Tainiang/Sie Tay Nio) mother of Raden Paku and daughter of Admiral
Shi Jinqing/Sie Chin Ching who was the overlord of the Chinese
community at Palembang. Princess Chen Wangtian/Tan Ong Tien who
was a daughter of Haji Chen Yinghua who is the wife of Sunan Gunung
Jati (Syarif Hidaytullah Du Anbo/Toh A Bo) founder of the Cirebon
sultanate, Cekong Mas (from the Han family, his tomb is located in a
prayer house at Prajekan near Situbondo in East Java and is regarded
as a sacred place), Adipati Astrawijaya-regent chosen by the Dutch East
India Company but sided with rebels when the Chinese in Semarang
Central Java rose in revolt against the Dutch in 1741 and Kanjeng Raden
Tumenggung (KRT-a noble title) Secodiningrat (Chen Jinxing/Tan JIn
Seng). According to professor Mulyana, Sunan Giri from his paternal
side is a grandson of Rahmat Wang Suihe, a Chinese Muslim from
Yunnan province, China, who, served as governor of Champa in present
day Vietnam, prior to his arrival in Java where he became the chief
coordinator of the Chinese community in Southeast Asia.

Chinese architectural influences are evident in the design of the
mosques in Java. It was Islam of the Hanafiyah school of thought that
first entered Southern Sumatra and Java from China during the Yuan
and the Ming dynasty periods. Professor Mulyana opines if Islam on the
Northern coastline of Java came from Malacca or Eastern Sumatra, it
will have been of the Syafi or Shiite school of thought but it is not the
case in reality. He stresses that until the 13th century the Hanafi school
existed only in Central Asia, China, Northern India, parts of the Middle
East/Maghreb (Islamic North Africa) and Turkey.

Massive waves of emigration from China to Southern Sumatra, Java and
other parts of Southeast Asia began in 1385, 17 years after the
inception of the Ming dynasty. Long before that Champa was occupied
by Nasaruddin, a Muslim general in Kublai Khan's armies. General
Nasaruddin is supposed to have propagated Islam in Cochin CHina. A
number of Chinese Muslim centres were established in Champa,
Palembang and East Java.

In the year 1413 when Admiral Muhammad Ma Huan arrived in Java
together with Admiral Zheng He along with the Chinese armada, he
noted that most of the Chinese residents there were Muslims as well as
the Dashi (Arab) people. At that time there were no Javanese Muslims
yet. Between 1513-1514, Tome Pires described Gresik in East Java as a
properous city controlled by the Chinese. In 1451, Ngampel Denta was
set up by Rahmat Wang Suihe alias Sunan Ampel to disseminate Islam
among the natives. Prior to that he managed a Chinese Muslim centre
at Bangil, also in East Java.

It is interesting to note that at least until the time of Japanese
occupation (1942-1945), in the city of Malang in East Java, the local
natives still addressed the newly arrived Chinese as 'Kyai'. Kyai means
Islamic religious teacher. Whereas most Chinese who came recently to
Southeast Asia were not Muslims. This habit was inherited from the
past when most of the Chinese settlers/sojourners in Java were
Muslims. The title Sunan is derived from the Fujian dialect 'Suhu/Saihu'.
8 of the Walisongo (9 Holy Saints) carried the title Sunan, one of them
carried the title Syekh from the Arabic Sheikh; all 9 of them are Chinese
who belong to the Hanafite school of Islam.

A natural conclusion to this is that the Islamic missionaries of the
Hanafiyah school of thought at that time were mainly Chinese. This can
more or less be compared to the spread of Christianity from Europe to
the other continents. Until the 19th century, these Christian missionaries
who spread their religion overseas were mostly Europeans. China's land
mass is more vast than that of Europe. Making a comparison with China
cannot be done with one of the European nations but has to be done
with Europe as a whole. Like Europe, China is home to much ethnic and
linguistic diversity, however the advantage of the Chinese in this matter
is that the Chinese ideograms can be commonly understood by different
groups of Chinese in spite of their dissimilarities in spoken tongue.

Lit.:

- De Graaf and Pigeaud "De eerste Moslimse Vorstendommen op
Java", "Islam in Java 1500-1700".

- Amen Budiman "Chinese Muslims in Indonesia".

- Slamet Mulyana "A story of Majapahit".

- Slamet Mulyana "The Fall of the Javanese Hindu Kingdoms and the
Rise of Islam in Nusantara".

- Jan Edel "Biography of Hasanuddin".

Wali songo berasal dari keturunan tiong hoa?

TRAGEDI kehancuran Kerajaan Majapahit, yang di sertai tumbuhnya negara-negara Islam di Bumi Nusantara, menyimpan banyak sekali fakta sejarah yang sangat menarik untuk diungkap kembali. Sebagai kerajaan tertua di tanah Jawa, Majapahit bukan saja menjadi romantisme sejarah dari puncak kemajuan peradaban Hindu-Jawa, sudah menjadi bukti sejarah tentang pergulatan politik yang terjadi di tengah islamisasi pada masa peralihan.

Keruntuhan Kerajaan Majapahit banyak mengantarkan suatu peradaban bagi orang
China dalam proses islamisasi di Nusantara. Stigma yang kecenderungan para sejarawan dalam mengungkapkan bahwa kedatangan Islam di Indonesia lebih pada kecenderungan orang Arablah yang berjasa sebagai penyebar Islam, sehingga tidak pernah melirik, orang China pernah andil dalam membangun peradaban Islam.

Hadirnya Buku Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara
Islam di Nusantara yang di tulis Prof Slamet Muljana pada tahun 1968 yang beredar di Indonesia pernah dilarang oleh Kejaksaan Agung tahun 1971, karena mengungkapkan hal-hal yang kontroversial waktu itu tentang para Wali Songo berasal dari China.

Pijakan yang dipakai rujukan oleh Slamet Muljana hanya membandingkan dari tiga sumber, yaitu Serat Kanda, Babad Tanah Jawi dan naskah dari Kelenteng Sam Po Kong yang ditulis Poortman dan dikutip oleh Parlindungan.
Residen Poortman tahun 1928 telah ditugasi pemerintah kolonial untuk menyelidiki
apakah Raden Patah itu orang China atau bukan sebagai dasar rujukan awal.

Perkembangan peristiwa itu ternyata menjadi sejarah politisasi bahwa China
dikaitkan terhadap pemberontakan Partai Komunis Indonesia yang terjadi tahun
1926/1927, ini memberikan kesempatan kepada pemerintah kolonial untuk menggeledah Kelenteng Sam Po Kong di Semarang untuk mengangkut naskah berbahasa Tionghoa yang terdapat di sana, sebagian sudah berusia 400tahun--sebanyak 3 cikar (pedati yang ditarik lembu). Arsip Poortman ini dikutip oleh Mangaraja Onggang Palindungan yang menulis buku yang kontroversial--Tuanku Rao.

Pada tahapan selanjutnya Slamet memberikan ilustrasi bahwa Bong Swi Hoo yang
datang di Jawa tahun 1445 sama dengan Sunan Ampel. Bong Swi Hoo ini menikah
dengan Ni Gede Manila yang merupakan anak Gan Eng Cu (mantan Kapitan China
di Manila yang dipindahkan ke Tuban sejak tahun 1423). Dari perkawinan ini lahirnya Bonang yang kemudian dikenal sebagai Sunan Bonang. Bonang ini diasuh oleh Sunan Ampel bersama dengan Giri yang kemudian dikenal sebagai Sunan Giri.

Putra Gan Eng Cu yang lain adalah Gan Si Cang yang menjadi Kapitan China di Semarang. Tahun 1481 Gan Si Cang memimpin pembangunan Masjid Demak dengan
tukang-tukang kayu dari galangan kapal Semarang. Tiang penyangga masjid itu
dibangun dengan model konstruksi tiang kapal yang terdiri dari kepingan-kepingan kayu yang tersusun rapi.

Tiang itu dianggap lebih kuat menahan angin badai daripada tiang yang terbuat dari kayu yang utuh. Slamet menyimpulkan bahwa Sunan Kali Jaga yang masa mudanya bernama Raden Said itu tak lain dari Gan Si Cang.
SedangkanSunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, menurut Slamet Muljana, adalah
Toh A Bo, putra dari Sultan Trenggana (memerintah di Demak tahun 1521-1546).
Sementara itu, Sunan Kudus atau Jafar Sidik tak lain dari Ja Tik Su.

Tentu tidak ada larangan untuk berpendapat bahwa sebagian Wali Songo itu berasal dari China atau keturunan China. Namun, kelemahan Slamet Muljana, ia hanya mendasarkan kesimpulannya pada buku yang ditulis oleh MO Parlindungan.
Ia hanya melihat arsip Poortman dan tidak membaca sendiri naskah China tersebut. Begitu pula, Slamet sendiri tidak memeriksa sendiri naskah-naskah yang berasal dari kelenteng Sam Po Kong Semarang itu. Bagi para sejarawan di masa mendatang, dengan melakukan penelitian terhadap sumber berbahasa China baik yang ada di Nusantara maupun di daratan China, diharapkan periode ini (terutama mengenai penyebaran agama Islam di Jawa abad XV-XVI) dapat dijelaskan dengan lebih baik.

***

Sebetulnya pada masa ini cukup banyak sumber mengenai Laksamana Muslim Cheng
Ho yang berlayar ke berbagai penjuru dunia awal abad XV dengan armada yang lebih besar dari pelaut Eropa. Cheng Ho sendiri mempunyai penerjemah Ma Huan yang juga beragama Islam dan menuliskan pengalaman ini dalam buku Yingyai Senglan.

Di dalam buku ini dilaporkan tentang masyarakat China yang bermukim di Jawa
yang berasal dari Kanton, Zhangzhou, dan Quanzhou. Mereka telah meninggalkan
negeri China dan menetap di pelabuhan-pelabuhan pesisir Jawa sebelah timur.
Di Tuban mereka merupakan sebagian besar penduduk yang waktu itu jumlahnya
mencapai ''seribu keluarga lebih sedikit''. Di Gresik hanya ada ''pantai tanpa penghuni'' sebelum orang Kanton menetap di sana. Di Surabaya sejumlah besar penduduk juga orang China. Menurut Ma Huan, kebanyakan orang China itu telah masuk agama Islam dan menaati aturan agama (hlm 42).

Fakta sejarah mulai abad ke-15 di masa dinasti Ming (1368-1643), orang-orang
Tionghoa dari Yunnan mulai berdatangan untuk menyebarkan agama Islam, terutama di pulau Jawa. Tak dapat disangkal bahwa Laksamana Cheng Ho alias Sam Po Kong pada tahun 1410 dan tahun 1416 dengan armada yang dipimpinnya mendarat di pantai Simongan, Semarang.

Selain menjadi utusan Kaisar Yung Lo untuk mengunjungi Raja Majapahit, ia juga bertujuan menyebarkan agama Islam. Selain Laksamana Cheng Ho, sebagian besar dari Wali Songo yang berjasa menyebarkan agama Islam di pesisir Pulau Jawa dan mendirikan kerajaan Islam pertama di Demak berasal dari etnik Tionghoa.

Para wali tersebut antara lain Sunan Bonang (Bong Ang), Sunan Kalijaga (Gan Si Cang), Sunan Ngampel (Bong Swi Hoo), Sunan Gunung Jati (Toh A Bo) konon berasal dari Champa (Kamboja/Vietnam), Manila dan Tiongkok. Demikian juga Raden Patah alias Jin Bun (Cek Ko Po), sultan pertama kerajaan Islam Demak, adalah putra Kung Ta Bu Mi (Kertabumi), raja Majapahit (Brawijaya V) yang menikah dengan putri China, anak pedagang Tionghoa bernama Ban Hong (Babah Bantong).

Penyebaran agama Islam di Nusantara ada pandangan yang menyatakan bahwa Islam yang berkembang di sini berasal Hadramaut, Arab Selatan. Penyebarannya justru datang dari India dan Islam yang berkembang di kepulauan ini berasal dari China. Tetapi Menurut sebagian sejarawan Islam, bahwa Islam datang dari Gujarat, India antara lain, karena persamaan motif batu nisan Maulana Malik Ibrahim di Gresik dengan yang ada di Gujarat. Hal ini didukung pula karena faktor bahasa, istilah pinjaman dari bahasa Arab tidak murni menurut lafal aslinya, seperti terlihat dalam kata salat, zakat, dan seterusnya.

Jadi kata itu dipinjam melalui bahasa Persia atau bahasa-bahasa umat Islam di daratan Asia yang menjadikan bahasa Persi sebagai rujukan. Namun, mazhab di Asia daratan itu adalah Sunni-Hanafi bukan Sunni Syafii yang banyak dianut di Nusantara. Maka Islam itu datang dari Arabia Selatan, khususnya Yaman dan Hadramaut yang juga menganut mazhab Sunni-Syafii. Yang didukung pula dengan fakta, bahwa kawasan itu terkenal dengan aktivitas perdagangan laut internasionalnya. Sejalan dengan persoalan istilah pinjaman di atas.
Islam di Nusantara berasal dari China--paling tidak dalam satu fase tertentu perkembangannya di Asia Tenggara patut diperhitungkan, karena terdapat kesesuaian dalam hal mazhab (Sunni-Syafii) dan faktor bahasa tadi (hlm 164).

Pengembangan Islam di Nusantara, sebagian berasal dari Arabia Selatan, India, dan China. Peristiwa itu bisa terjadi bersamaan atau berurutan pada satu atau berbagai wilayah. Lagi pula perlu dibedakan antara kedatangan agama Islam, yang mulai dianut oleh penduduk setempat dan berkembang di tengah masyarakat di Nusantara, sebagian berasal dari Arabia Selatan, India, dan China terjadi bersamaan atau berurutan pada satu atau berbagai wilayah. Lagi pula perlu dibedakan antara kedatangan agama Islam, yang mulai dianut
oleh penduduk setempat dan berkembang di tengah masyarakat. Tri Muryono,
pekerja buku aktif di Rumah Baca LKiS







Compare dengan in pak

Kerajaan Majapahit

a.. didirikan tahun 1294 oleh Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawardana yang merupakan keturunan Ken Arok raja Singosari
b.. raja yang memerintah:
a.. Raden Wijaya 1273 - 1309
b.. Jayanegara 1309-1328
c.. Tribhuwanatunggaldewi 1328-1350
d.. Hayam Wuruk 1350-1389
e.. Wikramawardana 1389-1429
f.. Kertabhumi 1429-1478

a.. mencapai puncak kejayaannya di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk
(1350-1389)
b.. kebesaran kerajaan ditunjang oleh:
a.. pertanian sudah teratur
b.. perdagangan lancar dan maju
c.. memiliki armada angkutan laut yang kuat
d.. dipimpin oleh Hayam Wuruk dengan patih Gajah Mada
c.. di bawah patih Gajah Mada Majapahit menaklukkan daerah lain
d.. ia mengucapkan Sumpah Palapa yang berbunyi:

Ia tidak akan makan buah palapa sebelum berhasil menyatukan seluruh wilayah Nusantara
Sebagian ahli sejarah menterjemahkan Palapa sebagai bumbu masakan,jadi sebagian sejarawan mengatakan bahwa Gajah mada tidak akan makan makanan berbumbu atau “mutih” sebelum menaklukkan nusantara.(pen)

e.. Mpu Prapanca dalam bukunya Negara Kertagama menceritakan tentang zaman
gemilang kerajaan di masa Hayam Wuruk dan juga silsilah raja sebelumnya
f.. tahun 1364 Gajah Mada meninggal disusun oleh Hayam Wuruk di tahun 1389
dan kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran
g.. Penyebab kemunduran:
a.. Majapahit kehilangan tokoh besar seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada
b.. meletusnya Perang Paragreg tahun 1401-1406 merupakan perang saudara memperebutkan kekuasaan
c.. daerah bawahan mulai melepaskan diri
d.. berkembangnya Islam di daerah pesisir
e.. serangan pasukan Kediri tahun 1478

h.. Peninggalan kerajaan Majapahit:
a.. bangunan: Candi Panataran, Sawentar, Tiga Wangi, Muara Takus
b.. kitab:
a.. Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
b.. Sitosoma oleh Mpu Tantular yang memuat slogan Bhinneka Tunggal Ika
c.. Paraton
d.. Kidung Sundayana dan Sorandaka

R Wijaya Mendapat Wangsit Mendirikan Kerajaan Majapahit.

Dua pohon beringin di pintu masuk Pendopo Agung di Trowulan, Mojokerto.
Dua pohon beringin itu ditanam pada 22 Desemebr 1973 oleh Pangdam Widjojo
Soejono dan Gubernur Moehammad Noer.

Di belakang bangunan Pendopo Agung yang memampang foto para Pangdam Brawijaya, terdapat bangunan mungil yang dikelilingi kuburan umum.
Bangunan bernama Petilasan Panggung itu diyakini Petilasan Raden Wijaya dan
Tempat Patih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa.

Begitu memasuki bangunan Petilasan Panggung, yang memiliki pendopo mini
sebagai latarnya, tampak beberapa bebatuan yang dibentuk layaknya kuburan,
dinding di sekitar " kuburan " itu diselimuti kelambu putih transparan yang
mampu menambah kesakralan tempat itu.

Menurut Sajadu ( 55 ) penjaga Petilasan Panggung, disinilah dulu Raden Wijaya bertapa sampai akhirnya mendapat wangsit mendirikan kerajaan Majapahit. Selain itu, ditempat ini pula Patih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa. " Tempat ini dikeramatkan karena dianggap sebagai Asnya Kerajaan Majapahit " katanya.

Pada waktu tertentu khususnya bertepatan dengan malam jumat legi, banyak orang datang untuk berdoa dan mengharapkan berkah. " orang berdatangan untuk berdoa, agar tujuannya tercapai " kata Sajadu yang menyatakan pekerjaan menjaga Petilasan Panggung sudah dilakukan turun-temurun sejak leluhurnya.

Sembari menghisap rokok kreteknya, pria yang mewarisi sebagai penjaga petilasan dari ayahnya sejak 1985 juga menceritakan, dulunya tempat itu hanya berupa tumpukkan bebatuan. Sampai sekarang, batu tersebut masih ada di dalam, katanya.

Kemudian pada 1964, dilakukan pemugaran pertama kali oleh Ibu Sudarijah atau
yang dikenal dengan Ibu Dar Moeriar dari Surabaya. Baru pada tahun 1995 dilakukan pemugaran kembali oleh Pangdam Brawijaya yang saat itu dijabat oleh Utomo.

Memasuki kawasan Petilasan Panggung, terpampang gambar Gajah Mada tepat disamping pintu masuk. Sedangkan dibagian depan pintu bergantung sebuah papan kecil dengan tulisan " Lima Pedoman " yang merupakan pedoman suri teladan bagi warga.

Selengkapnya " Ponco Waliko " itu bertuliskan " Kudutrisno Marang Sepadane Urip, Ora Pareng Ngilik Sing Dudu Semestine, Ora Pareng Sepatah Nyepatani dan Ora Pareng Eidra Hing Ubaya "

Dikisahkan Sajadu pula, Petilasan Panggung ini sempat dinyatakan tertutup bagi umum pada tahun 1985 hingga 1995. Baru setelah itu dibuka lagi untuk umum, sejak dinyatakan dibuka lagi, pintu depan tidak lagi tertutup dan siangpun boleh masuk.

MASA KEJAYAAN MAJAPAHIT

Kerajaan Majapahit mencapai masa keemasan ketika dipimpin oleh Hayam Wuruk
dengan patihnya Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa.
Majapahit menaklukkan hampir seluruh Nusantara dan melebarkan sayapnya hingga ke
seluruh Asia Tenggara. Pada masa ini daerah Malang tidak lagi menjadi pusat kekuasaan karena diduga telah pindah ke daerah Nganjuk. Menurut para ahli di Malang ditempatkan seorang penguasa yang disebut Raja pula.

Dalam Negara Kertagama dikisahkan Hayam Wuruk sebagai Raja Majapahit melakukan ziarah ke makam leluhurnya (yang berada disekitar daerah Malang), salah satunya di dekat makam Ken Arok. Ini menunjukkan bahwa walaupun bukan pusat pemerintahan namun Malang adalah kawasan yang disucikan karena merupakan tanah makam para leluhur yang dipuja sebagai Dewa. Beberapa prasasti dan arca peninggalan Majapahit dikawasan puncak Gunung Semeru dan juga di Gunung Arjuna menunjukkan bahwa kawasan Gunung tersebut adalah tempat bersemayam para Dewa dan hanya keturunan Raja yang boleh menginjakkan kaki di wilayah tersebut. Bisa disimpulkan bahwa berbagai peninggalan tersebut merupakan rangkaian yang saling berhubungan walaupun terpisah
Oleh masa yang berbeda sepanjang 7 abad.

Keruntuhan Majapahit

Tersebutlah kisah, Adipati Terung meminta Sultan Bintara alias Raden Patah yang masih "kapernah" kakaknya, untuk menghadap Prabu Brawijaya. Tapi Sultan Demak itu tidak mau karena ayahnya dianggap masih kafir.Brawijaya adalah raja Majapahit, kerajaan Hindu yang pernah jaya ditanah Jawa. Bahkan kemudian Raden Patah lalu mengumpulkan para bupati pesisir seperti Tuban, Madura dan Surabaya serta para Sunan untuk bersama-sama menyerbu Majapahit yang kafir itu. Prajurit Islam dikerahkan mengepung ibu kota kerajaan, karena segan berperang dengan puteranya sendiri, Prabu Brawijaya meloloskan diri dari istana bersama pengikut yang masih setia. Sehingga ketika Raden Patah dan rombongannya (termasuk para Sunan) tiba, istana itu kosong. Atas nasihat Sunan Ampel, untuk menawarkan segala pengaruh raja kafir, diangkatlah Sunan Gresik jadi raja Majapahit selama 40 hari.
Sesudah itu baru diserahkan kepada Sultan Bintara untuk diboyong ke Demak.
Cerita ini masih dibumbui lagi, yaitu setelah Majapahit jatuh, Adipati Terung ditugasi mengusung paseban raja Majapahit ke Demak untuk kemudian dijadikan serambi masjid. Adipati Bintara itu kemudian bergelar "Senapati Jinbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidina Panatagama".

Cerita mengenai serbuan tentara Majapahit itu dapat ditemui dalam "BABAD TANAH JAWI". Tapi cerita senada juga terdapat dalam "Serat Kanda".
Disebutkan, Adipati Bintara bersama pengikutnya memberontak pada Prabu Brawijaya. Bala tentara Majapahit dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada, Adipati Terung dan Andayaningrat (Bupati Pengging). Karena takut kepada Syekh Lemah Abang, gurunya, Kebo Kenanga (Putra Bupati Pengging) membelot ikut musuh. Sementara itu Kebo Kanigara saudaranya tetap setia kepada Sang Prabu Brawijaya.

Tentara Demak dibawah pimpinan Raden Imam diperlengkapi dengan senjata sakti
"Keris Makripat" pemberian Sunan Giri yang bisa mengeluarkan hama kumbang
dan "Badhong" anugerah Sunan Cirebon yang bisa mendatangkan angin ribut.
Tentara Majapahit berhasil dipukul mundur sampai keibukota, cuma rumah adipati Terung yang selamat karena ia memeluk Islam.

Karena terdesak, Prabu Brawijaya mengungsi ke (Tanjung) sengguruh beserta keluarganya diiringi Patih gajah Mada. Itu terjadi tahun 1399 Saka atau 1477 Masehi. Setelah dinobatkan menjadi Sultan Demak bergelar "Panembahan Jinbun", adipati Bintara mengutus Lembu Peteng dan jaran panoleh ke sengguruh meminta sang Prabu masuk agama Islam. tapi beliau tetap menolak.
Akhirnya Sengguruh diserbu dan Prabu Brawijaya lari kepulau Bali.



Cerita versi BABAD TANAH JAWI dan SERAT KANDA itulah yang selama ini populer
dikalangan masyarakat Jawa, bahkan pernah juga diajarkan disebagian sekolah
dasar dimasa lalu. Secara garis besar, cerita itu boleh dibilang menunjukkan
kemenangan Islam. Padahal sebenarnya sebaliknya, bisa memberi kesan yang
merugikan, sebab seakan-akan Islam berkembang di Jawa dengan kekerasan dan
darah. Padahal kenyataannya tidak begitu.

Selain fakta lain banyak menungkap bahwa masuknya Islam dan berkembang ditanah Jawa dengan jalan damai. Juga fakta keruntuhan Majapahit juga menunjukkan bukan disebabkan serbuan tentara Islam demak.

Prof. Dr. Slamet Muljana dalam bukunya "Pemugaran Persada Sejarah Leluhur
Majapahit" secara panjang lebar membantah isi cerita itu berdasarkan bukti-bukti sejarah. Dikatakan Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda yang ditulis abad XVII dijaman Mataram itu tanpa konsultasi sumber sejarah yang dapat dipercaya. Sumber sejarah itu antara lain beberapa prasasti dan karya sejarah tentang Majapahit, seperti "Negara Kertagama dan Pararaton". Karena itu tidak mengherankan jika uraiannya tentang Majapahit banyak yang
cacat.

"Prasasti Petak" dan "Trailokyapuri" menerangkan, raja Majapahit terakhir adalah Dyah Suraprahawa, runtuh akibat serangan tentara keling pimpinan Girindrawardhana pada tahun 1478 masehi, sesuai Pararaton. Sejak itu Majapahit telah berhenti sebagai ibu kota kerajaan. Dengan demikian tak mungkin Majapahit runtuh karena serbuan Demak. Sumber sejarah Portugis tulisan Tome Pires juga menyebutkan bahwa Kerajaan Demak sudah berdiri dijaman pemerintahan Girindrawardhana di Keling.

Saat itu Tuban, Gresik, Surabaya dan Madura serta beberapa kota lain dipesisir utara Jawa berada dalam wilayah kerajaan Kediri, sehingga tidak mungkin seperti diceritakan dalam Babad Jawa, Raden Patah mengumpulkan para bupati itu untuk menggempur Majapahit.

Penggubah Babad Tanah Jawi tampaknya mencampur adukkan antara pembentukan
kerajaan Demak pada tahun 1478 dengan runtuhnya Kediri oleh serbuan Demak
dijaman pemerintahan Sultan Trenggano 1527. Penyerbuan Sultan Trenggano ini
dilakukan karena Kediri mengadakan hubungan dengan Portugis di Malaka seperti yang dilaporkan Tome Pires. Demak yang memang memusuhi Portugis hingga menggempurnya ke Malaka tidak rela Kediri menjalin hubungan dengan bangsa penjajah itu.

Setelah Kediri jatuh (Bukan Majapahit !) diserang Demak, bukan lari kepulau Bali seperti disebutkan dalam uraian Serat Kanda, melainkan ke Panarukan, Situbondo setelah dari Sengguruh, Malang. Bisa saja sebagian lari ke Bali sehingga sampai sekarang penduduk Bali berkebudayaaan Hindu, tetapi itu bukan pelarian raja terakhir Majapahit seperti disebutkan Babad itu.
Lebih jelasnya lagi raden Patah bukanlah putra Raja Majapahit terakhir seperti
disebutkan dalam Buku Babad dan Serat Kanda itu, demikian Dr. Slamet Muljana.

Sejarawan Mr. Moh. Yamin dalam bukunya "Gajah Mada" juga menyebutkan bahwa
runtuhnya Brawijaya V raja Majapahit terakhir, akibat serangan Ranawijaya dari kerajaan Keling, jadi bukan serangan dari Demak. Uraian tentang keterlibatan Mahapatih Gajah Mada memimpin pasukan Majapahit ketika diserang Demak 1478 itu sudah bertentangan dengan sejarah.
Soalnya Gajah Mada sudah meninggal tahun 1364 Masehi atau 1286 Saka.


Penuturan buku "Dari Panggung Sejarah" terjemahan IP Simanjuntak yang bersumber dari tulisan H.J. Van Den Berg ternyata juga runtuhnya Majapahit bukan akibat serangan Demak atau tentara Islam. Ma Huan, penulis Tionghoa Muslim, dalam bukunya "Ying Yai Sheng Lan" menyebutkan, ketika mendatangi Majapahit tahun 1413 Masehi sudah menyebutkan masyarakat Islam yang bermukim di Majapahit berasal dari Gujarat dan Malaka. Disebutkannya, tahun 1400 Masehi saudagar Islam dari Gujarat dan Parsi sudah bermukim di pantai utara Jawa.

Salah satunya adalah Maulana Malik Ibrahim yang dimakamkan di Pasarean Gapura Wetan Kab. Gresik dengan angka tahun 12 Rabi'ul Awwal 882 H atau 8 April 1419 Masehi, berarti pada jaman pemerintahan Wikramawardhana (1389-1429) yaitu Raja Majapahit IV setelah Hayam Wuruk. Batu nisan yang berpahat kaligrafi Arab itu menurut Tjokrosujono (Mantan kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Mojokerto), nisan itu asli bukan buatan baru.

Salah satu bukti bahwa sejak jaman Majapahit sudah ada pemukiman Muslim diibu kota, adalah situs Kuna Makam Troloyo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, JATIM. Makam-makam Islam disitus Troloyo Desa Sentonorejo itu beragam angka tahunnya, mulai dari tahun 1369 (abad XIV Masehi) hingga tahun 1611 (abad XVII Masehi).

Nisan-nisan makam petilasan di Troloyo ini penuh tulisan Arab hingga mirip prasati. Lafalnya diambil dari bacaan Doa, kalimah Thayibah dan petikan ayat-ayat AlQuran dengan bentuk huruf sedikit kaku. Tampaknya pembuatnya seorang mualaf dalam Islam. Isinya pun bukan bersifat data kelahiran dan kematian tokoh yang dimakamkan, melainkan lebih banyak bersifat dakwah antara lain kutipan Surat Ar-Rahman ayat 26-27.

P.J. Veth adalah sarjana Belanda yang pertama kali meneliti dan menulismakam Troloyo dalam buku JAVA II tahun 1873.L.C. Damais peneliti dari Prancis yang mengikutinya menyebutkan angka tahun pada nisan mulai abad XIV hingga XVI. Soeyono Wisnoewhardono, Staf Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Trowulan mengatakan, nisan-nisan itu membuktikan ketika kerajaan Majapahit masih berdiri, orang-orang Islam sudah bermukim secara damai disekitar ibu kota. Tampak jelas disini agama Islam masuk kebumi Majapahit penuh kedamaian dan toleransi.


Satu situs kepurbakalaan lagi dikecamatan trowulan yakni diDesa dan kecamatan Trowulan adalah Makam Putri Cempa. Menurut Babad Tanah jawi, Putri
Cempa (Jeumpa, bahasa Aceh) adalah istri Prabu Brawijaya yang beragama Islam. Dua nisan yang ditemukan dikompleks kekunaan ini berangka tahun 1370 Saka (1448 Masehi) dan 1313 Saka (1391 Masehi).
Dalam legenda rakyat disebutkan dengan memperistri Putri Cempa itu, sang Prabu sebenarnya sudah memeluk agama Islam. Ketika wafat ia dimakamkan secara Islam dimakam panjang (Kubur Dawa). Dusun Unggah-unggahan jarak 300 meter dari makam Putri Cempa bangsawan Islam itu.

Dari fakta dan situs sejarah itu, tampak bukti otentik tentang betapa tidak benarnya bahwa Islam dikembangkan dengan peperangan. Justru beberapa situs kesejarahan lain membuktikan Islam sangat toleran terhadap agama lain (termasuk Hindu) saat Islam sudah berkembang pesat ditanah Jawa.


Dikompleks Sunan Bonang di Tuban, Jawa Timur misalnya, berdiri tegak Candi
Siwa Budha dengan angka tahun 1400 Saka (1478 masehi) yang kini letaknya
berada dibelakang kantor Pemda tuban. Padahal, saat itu sudah berdiri pondok
pesantren asuhan Sunan Bonang. Pondok pesantren dan candi yang berdekatan
letaknya ini dilestarikan dalam sebuah maket kecil dari kayu tua yang kini
tersimpan di Museum Kambang Putih, Tuban.

Di Kudus, Jawa Tengah, ketika Sunan Kudus Ja'far Sodiq menyebarkan ajaran
Islam disana, ia melarang umat Islam menyembelih sapi untuk dimakan. Walau
daging sapi halal menurut Islam tetapi dilarang menyembelihnya untukmenghormati kepercayaan umat Hindu yang memuliakan sapi.

Untuk menunjukkan rasa toleransinya kepada umat Hindu, Sunan Kudus menambatkan sapi dihalaman masjid yang tempatnya masih dilestarikan sampai sekarang. Bahkan menara Masjid Kudus dibangun dengan gaya arsitektur candi Hindu.

ketika kerajaan Majapahit berdiri sebagai bagian dari perjalanan bangsa Indonesia. Sejak didirikan Raden Wijaya yang bergelar Kertanegara Dharmawangsa, kerajaan ini senantiasa diliputi fenomena pemberontakan. Pewaris tahta Raden Wijaya, yakni masa pemerintahan Kalagemet/Jayanegara (1309-1328), yang dalam sebuah prasasti dianggap sebagai titisan Wisnu dengan Lencana negara Minadwaya (dua ekor ikan) dalam memerintah banyak menghadapi pemberontakan-pemberontakan terhadap Majapahit dari mereka yang masih setia kepada Kertarajasa.

Pemberontakan pertama sebetulnya sudah dimulai sejak Kertarajasa masih hidup, yaitu oleh Rangga Lawe yang berkedudukan di Tuban, akibat tidak puas karena bukan dia yang menjadi patih Majapahit tetapi Nambi, anak Wiraraja. Tetapi usahanya (1309) dapat digagalkan.

Pemberontakan kedua di tahun 1311 oleh Sora, seorang rakryan di Majapahit, tapi gagal. Lalu yang ketiga dalam tahun 1316, oleh patihnya sendiri yaitu Nambi, dari daerah Lumajang dan benteng di Pajarakan. Ia pun sekeluarga ditumpas.
Pemberontakan selanjutnya oleh Kuti di tahun 1319, dimana Ibukota Majapahit
sempat diduduki, sang raja melarikan diri dibawah lindungan penjaga-penjaga istana yang disebut Bhayangkari sebanyak 15 orang dibawah pimpinan Gajah Mada.

Namun dengan bantuan pasukan-pasukan Majapahit yang masih setia, Gajah Mada
dengan Bhayangkarinya menggempur Kuti, dan akhirnya Jayanegara dapat melanjutkan pemerintahannya.

Berhenti pemberontakan Kuti, tahun 1331 muncul pemberontakan di Sadeng dan
Keta (daerah Besuki). Maka patih Majapahit Pu Naga digantikan patih Daha yaitu Gajah Mada, sehingga pemberontakan dapat ditumpas. Keberhasilan Gajah Mada memadamkan pemberontakan Sadeng membawanya meraih karier diangkat sebagai mahapatih kerajaan.

Namun pada masa pemerintahan Hayam Wuruk pada tahun 1350-1389, berkali-kali
sang patih Gajah Mada --yang juga panglima ahli perang di masa itu—harus menguras energi untuk memadamkan pemberontakan di beberapa daerah.
Pemberontakan Ronggolawe sampai serangan kerajaan Dhaha, Kediri.

Bahkan salah satu penyebab kemunduran dan hancurnya kerajaan Majapahit adalah ketika meletusnya Perang Paragreg tahun 1401-1406 merupakan perang saudara memperebutkan kekuasaan, daerah bawahan mulai melepaskan diri dan berkembangnya Islam di daerah pesisir

Kerajaan Majapahit yang pernah mengalami masa keemasan dan kejayaan harus
runtuh terpecah-pecah setelah kehilangan tokoh besar seperti Hayam Wuruk dan
Gajah Mada.

http://www.jawapalace.org/majapahit.htm
--------------------------------------------------------------------------------
Sunan Ampel Berdarah Cina

Surabaya, CyberNews. Hasil penelitian dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan
Ampel Surabaya, Drs H Sjamsudduha dalam penelitian sejak 1971 menyimpulkan,
Sunan Ampel yang merupakan "guru" para wali itu keturunan Cina, karena ibunya berasal dari Campa, Cina."Ada sejarahwan yang bilang Campa itu Jeumpa di Aceh Utara, lalu saya melakukan penelitian ke Aceh, ternyata Jeumpa itu kerajaan pra Islam dan
bukan pelabuhan yang mempunyai hubungan dagang dengan Pasai atau Jawa, karena itu Campa itu bukan Jeumpa, apalagi peneliti Aceh sendiri menyebut Campa itu di Indocina," katanya di Surabaya, Rabu.

Ia mengemukakan hal itu dalam bedah buku "Sunan Ampel, Guru Para Wali di
Jawa dan Perintis Pembangunan Kota Surabaya" yang ditulisnya sejak 1971
dalam bentuk skripsi dan akhirnya diterbitkan sebagai buku dalam rangka
"Festival Internasional Ampel 2004" pada 27 Juni - 27 Juli 2004 dengan 19
rangkaian kegiatan.

Menurut Sjamsudduha, ayah Sunan Ampel sendiri bernama Ibrahim yang berasal
dari Arab, sedangkan nama ibunya beragam, diantaranya Retna Sujinah, Retna
Dyah Siti Asmara, Darawati, Dewi Candrasasi atau Dewi Candrawulan, namun
semua sumber sepakat bahwa ibu Sunan Ampel adalah seorang putri bangsawan Campa.

Buku yang ditulis berdasarkan bukti tertulis seperti Babad Tanah Jawi, telaah interteks, dan telaah teori serta tesis itu, katanya, juga menumbangkan teori Prof Dr Slamet Mulyono bahwa Sunan Ampel itu merupakan "aktor intelektual" runtuhnya Kerajaan Majapahit dan lunturnya ajaran agama Hindu Jawa.

"Profesor Slamet Mulyono menilai runtuhnya Majapahit itu tak lepas dari komunitas muslim Cina di bawah pimpinan Sunan Ampel yang menyerang Majapahit dengan memanfaatkan fanatisme agama, tapi hasil penelitian saya justru meragukan kesimpulan itu, karena Majapahit runtuh pada 1527 dan bukan 1478, sedangkan Sunan Ampel sendiri wafat pada 1484," katanya.

Selain itu, katanya, teks-teks yang ada justru menemukan penyebab keruntuhan Kerajaan Majapahit adalah pemberontakan Raja Keling yang merupakan bawahan Kerajaan Majapahit yang terletak di sekitar Kediri.

Dalam bukunya itu, Sjamsudduha juga mengupas ajaran Sunan Ampel yang berfaham Ahlussunnah wal Jamaah dalam akidah (keimanan), bermadzhab Imam Syafi'i dalam fiqh (hukum Islam), dan mengajarkan Thariqat Naqsyabandiyah dalam tasawuf.

Selain itu, Sunan Ampel yang bernama kecil Raden Rahmat itu berjuang dengan
cara dakwah, pendidikan kepesantrenan, pembangunan kota Surabaya, dan pendidikan kader dakwah.

"Masjid Ampel yang sudah mengalami renovasi berkali-kali itu merupakan pusat
perkembangan bagi kampung-kampung di Surabaya, karena itu Sunan Ampel adalah
peletak dasar dan perintis dari perkembangan kota Surabaya," katanya.

Sementara itu, guru besar Universitas Negeri Malang (UNM) Prof Dr Abdul Mustopo menilai penelitian Sjamsudduha cukup penting dan karenanya harus dilanjutkan peneliti lain, karena masih banyak manuskrip tentang Sunan Ampel yang belum diungkap.

"Misalnya, Sunan Ampel itu pernah mondok di Malaysia," katanya.( ant/Cn07 )

Thursday, August 6, 2009

ILUSTRASI CAT AIR GAMBAR BENTENG PANAROEKAN 15 AGUSTUS 1805

Gambar sebuah desa dengan Latar belakang gunung Rinkit Panaroekan agustus 1805
Gambar sebuah tempat dengan Latar belakang gunung Rinkit Panaroekan agustus 1805,kira kira lukisan ini di ambil di daerah station panaroekan

DE Berg Rinkit de Pannarokan.
Pemandangan Gunung Ringgit(putri tidur) di lihat dari Panaroekan agustus 1805


Gambar detail dari Benteng panaroekan 15 agustus 1805,tampak sebuah kapal Voc bersandar di samping benteng yang merupakan muara dari sungai sampean.




Tekeningen in aanzicht van het fort van Panaroekan vervaardigd door H.J. Wardenaar tijdens een reis naar het oostelijke deel van Java in opdracht van N. Engelhard op 15 augustus 1805.

Panaroekan was once the eastern part of North Java was conquered by the VOC (1767-1772), the principal of this area. The fort was a simple wooden reinforcement surrounded by pallisaden. The place was not of economic interest but rather a military and administrative post for illegal trade by British and other ships.

BABAD TANAH DJAWI


SEKELUMIT KISAH KITAB BABAD TANAH DJAWA.......
(KALAU BELUM BISA BAHASA JAWA KAWI MOHON MA'AF)
Translation to Bahasa will available soon.....

Ing tahoen 1222 ana ratoe ing Toemapel oetawa Singasari, djenengé Ken Angrok.
Critané Ken Angrok iki saka layang Pararaton. Ketemoené layang iki ana ing Bali ḍèk tahoen 1891. Ken Angrok lair ana ing satjeḍaké Toemapel (Singasari), asal wong tani loemrah baé. Ken Angrok katjarita bagoes roepané lan bisa nenarik katresnaning wong, nanging banget kareme marang pangadji adji lan wani marang penggawé loepoet. Ing sawidjining dina ana Brahmana ketemoe karo dhéwékné, kandha yèn dhéwékné titising Wisnoe. Anggoné kandha mangkono ikoe, awit Brahmana maoe ngerti yèn Ken Angrok ikoe wong kang gedhé karepe lan kenceng boediné. Brahmana bandjoer golèk dalan bisané Ken Angrok kacedhak karo adipati ing kono, Sang Toenggoel Ametoeng. Ora antara soewé kelakon Ken Angrok kaabdèkaké. Bareng wis mangkono, Ken Angrok bandjoer tansah golèk dalan kapriyé enggoné bisa ngendhih Sang Adipati, nggentèni djoemeneng. Ketemoening nalar Ken Angrok bandjoer ndandakaké keris becik marang Empoe Gandring. Sawisé keris dadi, katon becik temenan, nganti mitrané Ken Angrok aran Keboidjo kepéncoet kepéngin nganggo, bandjoer nemboeng nyilih: oleh. Saka senengé, keris maoe saben dina dianggo sarta dipamèr pamèraké, dikandhakaké doewèké dhéwé. Bareng wis sawatara dina Ken Angrok bandjoer nyolong kerisé dhéwé kang lagi disilih ing mitrané maoe dianggo nyidra Sang Adipati. Kelakon séda, keris ditinggal ing sandhingé layon. OEroesaning prakara: mitrané Ken Angrok sing kena ing dakwa, dipoetoes oekoem pati. Ken Angrok bandjoer bisa oleh Sang poetri randaning Toenggoel Ametoeng lan goemanti madeg adipati: Sang Poetri asmané Ken Dhedhes.
Sasoewéné dicekel Ken Angrok negarané tata, redja, wong cilik banget soengkemé. Sawisé mbedhah karadjan cilik cilik ing Jenggala, Ken Angrok bandjoer emoh kebawah Kedhiri, malah ing tahoen 1222 mbedhah pradja Kedhiri nganti kelakon menang, Ratoe ing Kedhiri Praboe Kertadjaya séda nggantoeng sabalané kang padha toehoe. Kedhiri bandjoer ditandoeri adipati kabawah Singasari. Bareng para ratoe darah Empoe Sindhok wis kalah kabèh karo Ken Angrok, Ken Angrok bandjoer djoemeneng Ratoe gedhé, djedjoeloek Praboe Redjasa, yaikoe kang noeroenaké para ratoe ing Madjapait.
Katjarita Sang Retna Dhedhes nalika sédané adipati Toenggoel Ametoeng wis ambobot. Bareng wis tekan mangsané, Sang Retna mbabar poetra kakoeng, diparingi peparab Radèn Anoesapati. Wiwit timoer nganti diwasa Sang Pangéran ora ngerti yèn satemené doedoe poetrané Praboe Redjasa, nanging roemangsa yèn ora ditresnani ing Sang Praboe, béda banget karo rayi rayiné. Ing sawidjining dina Anoesapati kelair marang iboené mangkéné: "Iboe, poenapa, déné Kangdjeng rama poenika teka boten remen dhateng koela?" Sang Retna banget trenyoehing galih mireng atoer sasambaté kang poetra, wasana bandjoer keprodjol pangandikané; kang poetra dicritani lelakoné wiwitan tekan wekasan. Anoesapati banget ing pangoengoené, sanalika bandjoer doewé sedya males oekoem, nanging isih sinamoen ing semoe. Keris yasané Empoe Gandring disoewoen, pawatané moeng kepingin banget anganggo. Kang iboe lamba ing galih, keris diparingaké.
Anoesapati bandjoer nimbali abdiné kekasih, diparingi keris maoe lan diweroehaké ing wewadiné. Benginé Sang Praboe séda kapradjaya ing doeratmaka. Layoné Sang Praboe dicandhi ana ing Kagenengan (cedhak Malang). Anoesapati nggentèni djoemeneng Nata. Anoesapati djoemeneng ora soewé, awit Radèn Tohdjaya ngerti yèn Anoesapati kang nyédani ramané, moelané soemedya males oekoem lan iya kelakon. Tohdjaya djoemeneng Nata, nanging iya ora soewé. Tohdjaya oetoesan mantriné aran Lemboe Ampal, didhawoehi nyirnakaké kalilipé loro, yaikoe: Ranggawoeni, poetrané Anoesapati, lan nakdoeloere kang aran Narasingamoerti; yèn ora bisa kelakon, Lemboe Ampal dhéwé bakal kena oekoem pati.
Doemadakan ana sawidjining Brahmana kang welas marang radèn loro, bandjoer wewarah saperloené. Satriya loro bandjoer ndhelik ana ing panggonané Pandji Patipati. Lemboe Ampal nggolèki radèn loro ora ketemoe, bandjoer ora wani moelih, ngoengsi marang Pandji Patipati. Bareng ana ing kono mbalik ngiloni radèn loro, malah ngremboegi para poenggawa kang ora cocog karo Tohdjaya diadjak ngraman, wasana kelakon, Sang Praboe nganti nemahi séda.
Ranggawoeni djoemeneng Nata adjedjoeloek Syri Wisynoewardhana nganti nakdhèrèké Narasinga. Nganti tekan ing séda priyagoeng loro maoe roekoen banget, nganti dibasakaké: "Kaya Wisynoe lan kang raka Bathara Endra". Karatoné moendhak gedhé poelih kaya dhèk djamané Praboe Erlangga, malah djadjahané woewoeh Madoera. Sang Nata séda ing tahoen 1268, layoné diobong kaya adat, awoené sing separo dicandhi ana ing Welèri, ditoempangi reca Syiwah, sing separo dipethak ana candhi Jago (Toempang) nganggo reca Boedha. Dadi tetéla ing wektoe ikoe agama Syiwah karo Boedha campoer.
05 Pérangan Kang Kapisan Bab 5 Joemenengé Kartanagara ing Toemapel (1268 - 1292)
Ratoe Singasari kang Kaping V, djoemeneng mekasi. Sasédané Syri Wisynoewardhana pangéran pati djoemeneng Nata, adjedjoeloek Praboe Kartanagara. Sang Praboe manggalih marang kawroeh kagoenan, lan kasoesastran, lan iya manggalih marang oendhaking djadjahan, nanging koerang ngatos atos, lan kersa ngoendjoek nganti dadi woeroe. Ana nayakaning pradja aran Banyak Widhe oetama Arya Wiraradja, tepoeng becik lan Jayakatwang, adipati ing Daha. Satriya ikoe ora soengkem marang ratoené, malah wis sekoethon karo Jayakatwang, arep mbaléla. Doemadakan ana poenggawa kang matoer prakara ikoe, nanging Sang Praboe ora menggalih, Wiraradja malah diangkat dadi adipati ana ing Madoera.
Pepatihe Sang Nata aran Raganatha roemeksa banget marang ratoené, nganti sok wani ngatoeri pènget marang Sang Praboe ing bab kang ora bener, nanging Sang Praboe ora rena ing galih, ora nimbangi roemeksaning patih setya ikoe, malah bandjoer milih patih liya kang bisa ngladèni karsané. Patih wredha dioendoer, winisoeda dadi: nayaka pradata, dadi wis ora campoer karo prakara pangrèh pradja. Patih anyar senengé moeng ngalem marang ratoené lan ngladosi oendjoek oendjoekan.
Ana oetoesan saka ratoe agoeng ing nagara Tjina (Choebilai) dhawoeh soepaya Praboe Kartanagara nyalirani dhéwé oetawa wakilsoewana marang nagara Tjina perloe caos bekti (tahoen 1289). Sang Praboe doeka banget. Bathoeking Tjina oetoesan digambari pasemon kang ora apik, nelakaké doekané Sang Praboe. Bareng tekan ing nagara Tjina patrape ratoe Jawa kang mangkono ikoe maoe ndjalari doekané ratoe binathara ing Tjina, Ing tahoen1292 ana pradjoerit gedhé saka ing Tjina arep ngoekoem ing koewanéné wong Jawa. Wiraradja sasoewéné ana ing Madoera isih ngroengok ngroengokaké apa kang kalakon ana ing Singasari, lan iya weroeh oega yèn ing wektoe ikoe pradjoerit Singasari diloeroegaké menyang Soematra. Wiraradja ngadjani Jayakatwang akon nanggoeh mbedhah Singasari, moempoeng nagara lagi kesisan bala. Jayakatwang ngleksanani, lan Singasari kelakon bedhah. Ratoe lan patihé katoengkep ing moengsoeh isih teroes oendjoek oendjoekan baé (woeroe), moelané ora rekasa pinoerih sédané.
Radèn Widjaya, wayahè Narasinga, noeli oemangsah ngetog kaprawiran mbelani nagara lan ratoené, nanging wis kaslepek karoban wong Daha, moelané bandjoer kepeksa ngoncati, moeng kari nggawa bala 12, genti genti nggéndhong Sang Poetri garwané Radèn Widjaya, poetrané Praboe Kartanagara. Lampahè Radèn Widjaya sasentanané noesoep angayam alas. Kaleboe wilangan 12 ikoe ana satriyané loro, poetrané Wiraradja, doewè atoer marang Goestiné soepaya ngoengsi menyang Madoera. Sang Pangéran maoené ora karsa, nanging soewé soewé noeroeti. Ana ing Madoera ditampani kalawan becik. Remboegé Wiraradja, Radèn Widjaya diatoeri soewita menyang Daha. Wiraradja sing arep nglantaraké. Yèn wis kelakon soewita Radèn Widjaya diatoeri nyetitèkaké para poenggawa ing Daha, sapa sing kendel oetawa djirih, toehoe oetawa lamis. Yèn wis antara soewé diatoeri nyoewoen tanah tanah Trik, dibabada bandjoer dienggonana. Radèn Widjaya noeroet ing pitoedhoeh, lan iya kelakon soewita ing Daha. Katjarita pasoewitané kanggep banget, amarga saka pinteré noedjoe karsa, lan saka pinteré olah gegaman; wong sa Daha ora ana sing bisa ngalahaké. Kabèh piwoelangé Wiraradja ditindakaké, dilalah Sang Praboe teka dhangan baé, malah bareng tanah Trik wis dibabad, Radèn Widjaya nyoewoen manggon ing kono iya dililani. Katjarita nalika babade tanah Trik maoe, ana wong kang methik woh madja dipangan, nanging rasané pait. Awit saka ikoe désa ingkono maoe bandjoer didjenengaké Madjapait. Bareng Radèn Widjaya wis manggon ing Madjapait, roemangsa wis wayahè tata tata males oekoem, ngroesak kraton Daha, ananging Wiraradja akon sabar dhisik, awit isih ngenteni pradjoerit saka nagara Tjina kang arep ngoekoem wong Singasari. Karepe Wiraradja arep ngréwangi Tjina baé dhisik, besoeké arep mbalik moengsoeh Tjina. Wiraradja bandjoer boyong sakoelawargané lan sapradjoerite menyang Madjapait ngoempoel dadi sidji karo Radèn Widjaja.
06 Pérangan Kang Kapisan Bab 6 Karadjan Melajoe
Ing Bab 5 ana critané Praboe Kartanagara enggoné andjangka oenḍaking djadjahané. Ana ing tanah Soematra kelakon bisa oleh djadjahan. Ing ngisor iki tjrita sathithik toemraping karadjan karadjan ing tanah Melayoe. Katjarita ratoe ing Foenan, kira kira ing sadjroning abad 3 ngelar djadjahan, ngeloen tanah Soematra, Djawa lan lija-lijané, ajaké ratoe ikoe kang yasa reca reca ing tanah Pasémah. Ing abad kapitoe ana golonganing para pangéran saka ing Indhoe Boeri, padha manggon ing sakiwa tengening Palembang, bandjoer ngedegaké nagara gedhé, djenengé karadjan çrividjaya (= Syriwidjaya, sineboet ing bangsa Tjina nagara: Sambotsai). Ratoe ratoené padha darah Warman, isih doemoenoeng sanak karo darah Poernawarman ing Tanah Jawa dhèk abad 4 - 5, apadéné darah Moelawarman ing Koetai lan Bornéo dhèk watara tahoen 400. Nagara çrividjaya djadjahané kira kira Soematra sisih kidoel lan tengah, Malaka, Kambodja lan malah tekan Tanah Jawa. Ing tahoen 686 ratoe agoeng ing negara çrividjaya ngloeroegi Tanah Jawa, awit Tanah Jawa ora toehoe pangèdhêpé marang çrividjaya. Sadjroning abad 10 pradjoerit Jawa genti ngloeroegi çrividjaya, menang, nanging ora soewé çrividjaya bisa komboel manèh. Pradja ikoe adjeg enggoné nglakokaké oetoesan marang Naréndra ing Tjina. Ing sadjroning abad 12 lan 13 nagara gedhé çrividjaya pecah dadi karadjan cilik cilik. Darah Warman djoemeneng ana ing tanah kang sineboet tanah: "Melayoe" yaikoe saikiné Jambi. Rèhning pasisiré tanah Melayoe kono akèh reroesoeh, wongé akèh kang padha ngoengsi marang tanah pagoenoengan kang loh, ana ing kono padha dedhoekoeh. Bareng Tanah Jawa gedhé pangoewasané, Praboe Kartanagara (1268 - 1292) kalakon bisa ngroesak koetha Paséi, lan ngedjegi Jambi, Palembang, Riooew sarta koetha koetha akèh ing Bornéo apadéné poelo poelo ing Moloko. Ing saantaraning tahoen 1275 lan 1293 wong Jawa ngloeroegi tanah pagoenoengan Jambi maoe yaikoe tanah kang besoeké aran Menangkabaoe. Loeroegan ikoe diarani: Pamalayoe. Ing tahoen 1268 Praboe Kartanagara anggandjar reca marang ratoe ing Dharmmaçraya (Darmasraya) oega doemoenoeng ing tanah Jambi, ing saikiné ora adoh karo Soengai Lansat. Karadjan ikoe ing besoeké kaleboe djadjahan Madjapait, radjané darah Warman djedjoeloek Triboewana (Maoeliwarman) kagoengan garwa bangsa Melayoe, kang poetriné (poetrané poetri) ayaké dai garwané Radèn Widjaya biyèn. Sang Radja Tribhoewana mèloe karo bangsa Jawa ngloeroegi tanah Padhang Hoeloe. Mitoeroet tjarita Melayoe, loeroegan maoe ora oleh gawé, moeng marga saka kleboe ing gelar, kalah enggoné adoe kebo, moelané koethané bandjoer djeneng Menangkabaoe ikoe. Ana radja wewengkoné karadjan Dharmmaçraya djedjoeloek Adityawarman nagarané ing Malayoepoera, kang ing tahoen 1347 woes merdika, ambawa pribadhi, ikoe ngloeroegi Menangkabaoe, nanging ora nganti dadi perang, malah bandjoer diangkat dadi radja ing kono, awit pancèn dianggep bangsa Melayoe. Joemenengé ana ing Menangkabaoe wiwit tahoen 1347 tekan 1375, kecrita ing kawicaksanané lan pinteré nyekel pradja.
Toemeka sapréné Sang Adityawarman sarta nayakané loro kang aran Papatih Sabatang lan Kyai Katoemanggoengan isih dipoendhi poendhi marang bangsa Menangkabaoe. Sapoengkoeré Sang Aditya wis ora ana radja ing Menangkabaoe kang kecrita. Negarané pecah pecah, ing saiki isih akèh titiké, moenggoeh ing kaloehoeraning para radja Jawa asal Indhoe, ana ing tanah Menangkabaoe kono, loewih loewih toemraping basa lan sastrané. Darah radja radja koena ing Menangkabaoe maoe enteke doeroeng lawas, kang poengkas poengkasan poetri, sédané lagi saiki baé.
Ing tahoen 1377 koetha Sanbotsai ing tanah Palembang rinoesak ing balané Praboe Ayamwoeroek. Kang koewasa ing tanah Palembang kaseboet djeneng Arya Damar noeroenaké Radèn Patah (+/- tahoen 1500). Awit saka ambroeking karaton Madjapait, Palembang iya katoet apes, besoeké kalah karo Banten. Kaloehoeraning Tanah Jawa ana ing Soematra sisih kidoel kono toemekané dina iki oega iya isih akèh tilas tilasé.
Retrieved from "http://wikisource.org/wiki/Jv/Babad_Tanah_Djawi_lan_Tanah-Tanah_ing_Sakiwa-Tengenipoen/Bab_6"

07 Pérangan Kang Kapisan Bab 7 Perang Tjina lan Adegé Karadjan Madjapait (1292)
Ing tengah tengahané tahoen 1292 Maharadja Choebilai sida ngangkataké wadya bala menyang ing Tanah Jawa perloe arep ngoekoem Praboe Kartanagara. Ana ing pacekan (Soerabaya) praoe Jawa kalah, noeli bala Tjina arep ngloeroegi9 Daha, kang dikira panggonané Kartanagara (kang nalika ikoe wis séda). Katjarita Radèn Widjaya dhèk djaman samono woes wiwit mbalela marang Jayakatwang ratoe ing Daha. Sarèhné doewè pangarep arep bisaa ditoeloengi ing Tjina noempes ratoe ing Daha, moelané Radèn Widjaja bandjoer gawé gelar ethok ethok arep teloek marang sénapati Tjina. Kabeneran ora let soewé Madjapait, panggonané Radèn Widjaya ditempoeh ing wong Daha, Radèn Widjaya éntoek pitoeloengané wong Tjina bisa menang. Wasana ing tahoen 1293 koetha Daha dikepoeng ing balané Shih Pih lan Radèn Widjaya, Daha bedhah, ratoené kacekel, pèni pèni radja pèni didjarah rayah, Radèn Widjaya noeloengi poetri poetri, poetrané Praboe Kartanagara digawa oncad menyang Madjapait. Ora antara soewé, marga saka akalé Wiraradja, Radèn Widjaya bisa ngoesir pradjoerit Tjina. Wondéné pradjoerit maoe, senadyan kesoesoe soesoe meksa isih bisa anggawa barang rayahan, pengadji mas satengah yoeta tail lan tawanan wong satoes saka Daha. Radèn Widjaya bandjoer djoemeneng Nata ing Madjapait, djedjoeloek Kertaredjasa Jayawardhana oetawa Brawidjaya I (tahoen 1294 - 1309)
Sawisé djoemeneng Nata, Sang Praboe anggegandjar marang sakabèhing kawoela kang maoené laboeh, marang pandjenengané. Wiraradja dibagèhi tanah Loemadjang saoeroeté. Poetriné Kartanagara papat pisan dadi garwané Sang Praboe, lan isi ana garwa paminggir sidji saka tanah Melayoe aran Sri Indresywari.
Saka garwa paminggir iki Sang Praboe kagoengan poetra R. Kaligemet, kang besoeké nggentos kaprabon, adjedjoeloek Jayanégara, saka Prameswari Sang Praboe pepoetra poetri loro. Ing tahoen 1295 R. Kalagemet lagi yoeswa sataoen wis diangkat dadi pangéran pati lan dadi ratoe ing Kedhiri, iboené kang ngembani nyekel pradja Kedhiri. Ing nalika pandjenengané Praboe Kertaredjasa Jayawardhana ikoe, Tanah Jawa karo Tjina becik manèh, perdagangané gedhé, wong Tjina teka ing Tanah Jawa nggawa mas, salaka, merdjan, soetra biroe, soetra kembang kembangan, bala pecah lan dandanan wesi. Saka ing Tanah Jawa, Tjina koelak: beras, kopi kapri, rami, boembon crakèn loewih loewih mrica, barang barang mas oetawa salaka, bangsa dandanan koeningan oetawa tembaga, tenoenan kapas lan soetra, welirang, gading, coela warak, kayoe warna warna, manoek djakatoewa lan barang nam naman.
Ing Tanah Jawa ing wektoe ikoe akèh palaboehan ramé, kayata: Toeban, Sedayoe; Canggoe. Nalika djamané ratoe iki ing bawah karaton Madjapait kena dibasakaké oengsoem kraman. Para satriya kang mèloe lara lapa dhèk djamané Radèn Widjaya saiki ora oleh ati, awit Sang Praboe moeng anggega atoering nayakané kang aran Mahapati, wasana para satriya maoe bandjoer genti genti padha ngraman, nanging temahan asor djoerite. Ing tahoen 1328 Sang Praboe séda, dicidra ing doekoen kang didhawoehi ambedhel salirané. Sasédané Praboe Jayanégara kang goemanti sadhèrèké poetri, kang sesilih Bhreng Kaoeripan bandjoer djedjoeloek Jayawisynoewardhani. Sang nata dewi krama oleh satriya, kekasih Kartawardhana, misoewoer pinter, sregep lan djedjeg penggalihé. Sang Pangéran diangkat dadi panggedhéning djaksa lan oleh loenggoeh boemi Singasari sawewengkoné. Gadjahmada dadi warangkaning ratoe. Karepe Gadjahmada arep noengkoelaké satanah Jawa kabèh lan poelo poelo sakiwatengené. Ora let soewé yaikoe tahoen 1334 Soembawa lan Bali bedhah bandjoer kabawah marang Madjapait, mangka Bali nalika samana wis mbawahaké Lombok, Madoera, Blambangan lan Sélebes sabagéyan. Sénapatining pradjoerit kang ngelar djadjahan ing sadjabaning Jawa aran Nala. Ing tahoen 1334 Sang Radja poetri mbabar miyos kakoeng diparabi Ayam Woeroek, kang bandjoer didjoemenengaké Nata, nanging isih diembani kang iboe nganti tekan tahoen 1350.
Retrieved from "http://wikisource.org/wiki/Jv/Babad_Tanah_Djawi_lan_Tanah-Tanah_ing_Sakiwa-Tengenipoen/Bab_7"

08 Pérangan Kang Kapisan
Bab 8
Ajam Woeroek, Syri Radjasanagara,
Ratoe kang kaping IV ing Madjapait (tahoen 1350 - 1389)
Awit saking gedhéné lelaboehané Patih Gadjahmada, nagara Madjapait saya soewé saya misoewoer koewasané. Praboe Ayam Woeroek tetep djoemeneng ratoe agoeng binathara ngerèh sapepadhaning ratoe. Sang Nata krama oleh nakdhèrèke piyambak kang wewangi Retna Soesoemnadewi. Para santanané padha ginadhoehan tanah dhéwé dhéwé ing samoerwaté. Déné koewadjibané para santana oetawa adipati maoe ing mangsa kang woes ditamtokaké koedoe ngadhep ing pandjenengané Nata, moelané kabèh padha doewè dalem becik becik ana ing Madjapait, moewoehi asrining nagara. Ing djaman ikoe ana poedjangga kraton aran "Prapanca" (Boedha). Ing tahoen 1365 poedjangga iki nganggit layang kang aran Nagarakertagama. Ana manèh poedjangga aran Empoe Tantoelar nganggit layang Ardjoenawiwaha. Madjapait ing wektoe ikoe emèh mbawahaké satanah Indhiya Wétan kabèh, kayata: Tanah Jawa Wétan lan Tengah, Soematra, wiwit Lampoeng tekan Acih (Perlak), Bornéo (Bandjarmasin), Sélebes (Banggawai, Salaiya, Bantaiyan), Florès (Larantoeka), Soembawa (Dompo), saparoning Malaka lan sabageyaning Nieoew Goeinéa.
Tanah Soendha ora diteloekaké. Kang djoemeneng ratoe ana ing tanah Soendha maoe adjedjoeloek Praboe Wangi, poetrané poetri dilamar Praboe Ayam Woeroek iya dicaosaké, ananging Praboe Wangi bandjoer pasoelayan karo Patih Gadjahmada, nganti dadi perang. Praboe Wangi séda ing paprangan lan akèh poenggawané kang mati ana paprangan; ewadéné tanah Soendha ora dibawah Madjapait, isih madeg dhéwé ing sateroesé.
Ing Jaman samono paro adjar oetawa pandhita (agama Boedha oetawa Syiwah) mèloe nindakaké paprentahan nagara, moelané padha diparingi loenggoeh boemi dhéwé dhéwé kang diarani boemi: Pradikan. Padésan ing sakoebenging candhi oetawa padhépokaning para pandhita loemrahè oega dadi boemi pradikan, wongé diwadjibaké djaga lan ngopèni candhi padhépokan maoe. Kawoela liyané padha kena padjeg prapoeloehan (saprapoeloehing pametoening boeminé), lan kena ing pagawéyan goegoer goenoeng lan sapepadhané. Padjeg radjakaya, padjeg panggaotan lan tambangan ing wektoe samono iya wis ana. Pametoning pradja gedhé banget, perloe kanggo ragad perang lan kanggo kapraboning Sang Nata sarta kanggo yeyasan nagara, kayata: kraton, gedhong gedhong, pasanggrahan pasanggrahan lan liya liyané.
Ing nagara Madjapait wis akèh omah kang becik becik, payoné sirap, déné omah kang loemrah padha apager gedhég, ananging ing djero racaké ana pethiné watoe kang santosa perloe kanggo nyimpen barangé kang pangadji. Wong wong dhèk djaman samono padha doyan nginang, senengané padha toekoe bala pecah saka djoeragan Tjina, pambayare nganggo dhoewit sing diarani Kèpèng. Wong lanang padha ngoré ramboet, wong wadon geloengan kondhé. Wiwit enom wong wong padha nganggo gegaman keris, lan gegaman ikoe kerep diempakaké. Wong yèn mati djisime diobong, yèn sing mati ikoe bangsa loehoer oetawa wong soegih bodjo bodjoné (randha randhané) padha mèloe obong. Ora adoh saka nagara ana papan kanggo adoe adoe kéwan oetawa oewong oetawa kanggo karaméyan liya liyané. Papan ikoe arané "Boebat" Sang Nata kerep lelana tinggal nagara, ing Blambangan saoeroeté iya taoe dirawoehi.
Prakara perdagangan iya dadi gedhé banget, awit saka madjoening lelayaran kagawa saka kèhing nagara nagara kang kabawah ing Madjapait sing kelet letan sagara. Bab kagoenan, kayata: ngoekir oekir sapepadhané, komboele ing Tanah Jawa Wétan dhèk poengkasané abad kang kateloelas, lan ing wiwitané abad kang pat belas, moeng baé panggawéné reca reca kang apik apik ikoe nganggo toentoenaning wong Indhoe oetawa noeroen kagoenan Indhoe. Cekaking tjarita: Nalika pandjenengané Praboe Ayam Woeroek ikoe, Madjapait lagi oenggoel oenggoele, samoebarang lagi sarwa ondjo. Praboe Ayam Woeroek tilar poetra kakoeng miyos saka selir asma "Bhre Wirabhoemi" djoemeneng Nata ana ing bagéyan kang wétan. Déné kang nggentèni keprabon Madjapait poetra mantoené Sang Nata, adjedjoeloek Wikramawardhana (tahoen 1389 - 1400). Ing tahoen 1400 Sang Praboe sèlèh keprabon, kersané arep mandhita, ananging sapengkeré Sang nata, poetra lan sentanané padha reboetan nggentèni keprabon. Praboe Wikramawardhana bandjoer kapeksa koendoer djoemeneng ratoe manèh nganti tekan tahoen 1428. Sadjroning djoemeneng sing kèri iki Sang Praboe neroesaké merangi santanané kang woes kabandjoer ngraman nalika Sang Praboe djengkar saka kraton. Rèhning perang iki nganti soewé dadi nganakaké kapitoenan akèh lan karoesakan gedhé, awit teloek teloekan ing tanah sabrang bandjoer padha wani mbangkang woes ora gelem kabawah Madjapait. Tataning kawoela iya bandjoer roesak. Prakara patèn pinatèn wis dadi loemrah. Akèh wong main lan adoe djago totohané gedhéni. Ing tahoen 1428 - 1447 kang djoemeneng nata ratoe poetri djedjoeloek Retna Dewi Soehita, poetrané Praboe Wikramawardhana saka garwa paminggir. Teroesé bandjoer bandjoer Praboe Kertawidjaya (1447 - 1452) lan manèh Praboe Bhra Hiyang Poerwawisyesa (1456 - 1466), Pandan Salas (1446 - 1468), bandjoer Praboe Bhrawidjaya V (1468 - 1478). Moenggoeh babade ratoe ratoe kang wekasan iki ora terang, moelané ora diseboetaké. Ana ratoe ing nagara Keling (salor wétané Kedhiri, sakidoel koeloné Soerabaya) djedjoeloek Praboe Ranawidjaya Giridrawardhana ngelar djadjahan neloekaké Jenggala, Kedhiri lan oega mbedhah Madjapait (tahoen 1478). Bedhahè Madjapait ikoe koethané ora diroesak, awit ing tahoen 1521 lan 1541 nagara Madjapait isih kecrita koetha kang gedhé. Soewé soewé koetha Madjapait dadi roesak, awit wong wongé kang ora seneng kaerèh ing kraton liya, padha genti genti ninggal negarané, nglèrèg marang tanah Bali. Saiki Madjapait moeng kari patilasan baé, awoedjoed pager bata tilas moebeng lan tilas gapoera (Candhi Tikoes, Badjang Ratoe). Isih sadjroning djaman Madjapait, agama Islam wis mleboe saka sathithik, saya soewé saya bisa ngalahaké dayaning agama Indhoe ana ing Jawa Wétan.
Moenggoeh kaananing tanah Soendha ing wektoe ikoe ora pati kasoemoeroepan. Sawisé kradjan Taroemanagara dhèk abad 4 lan 5, moeng ana kang katjarita kradjan Soendha ing tahoen 1030 nagarané kira kira ing Cibadhak. Enggoné ora ana wong manca kang mleboe mrono, marga saka kèhing badjag kang padha nganggoe gawé ing saoeroeting pasisir. Ing Priyangan sisih wétan ana kradjané aran Galoeh, kang ngadegaké ayaké ratoe aran Poesaka, ratoe liyané djedjoeloek Wastoekencana lan Praboe Wang(g)i. ing tahoen 1433 Sang Ratoe Dewa iya Radja Poerana, ngadegaké koetha anyar aran Pakoean (Batoetoelis). Karadjan iki aran Padjadjaran. Toelisan kang ana ing watoe kono nerangaké manawa Sang Praboe yasa segaran. Padjadjaran semoené kradjan rada gedhé lan ngerèhaké Cirebon barang.

Pérangan Kang Kaping Pindho
Babad Tanah Jawa Wiwit Adegé Karadjan Karadjan
Islam lan Tekané Bangsa Eoeropa toemekané Gempale
Karadjan Mataram lan Ambroeké Vereenigde
Oost indische Compagenie (VOC)
taoen 1500 - 1799


09 Pérangan Kang Kaping Pindho Bab 1 Karadjan Demak lan Karadjan Padjang +/- tahoen 1500 - 1582
Wiwitané ing Tanah Jawa ana agama Islam ing antarané tahoen 1400 - 1425. Ing tahoen 1292 ing tanah Perlak ing poelo Soematra wis ana wong Islam; ing tahoen 1300 ana wong Islam manggon Samoedra Paséi. Ing poengkasané abad kang ping 14 ing Malaka iya wis ana wong Islam. Tekané padha saka Goedjarat. Saka Malaka kono agama Islam mencar marang Tanah Jawa, tanah Tjina, Indhiya Boeri lan Indhiya Ngarep. Kang mencaraké agama Islam ing Tanah Jawa dhisike yaikoe soedagar Jawa saka Toeban lan Gresik, kang padha dedagangan ing Malaka, padha sinaoe agama Islam, dadiné Islam terkadhang sok kepeksa. Soedagar soedagar djawa maoe padha bali marang Tanah Jawa Wétan, soedagar Indhoe lan Pèrsi oega ana sing teka ing kono lan noeli mencaraké agama Islam marang wong wong. Sing misoewoer yaikoe: Maoelana Malik Ibrahim (wong Persi?), séda ana ing Gresik ing tahoen 1419, nganti saiki pasareané isih.
Bareng koewasané karaton Madjapait saya soewé saya soeda, para boepati ing pasisir roemangsa gedhé pangoewasané, wani nglakoni sakarep karep. Para boepati maoe loemrahè wis padha Islam wiwit toemapaking abad kaping 16 (tahoen 1500 - 1525), Jalaran saka ikoe kerep baé perang karo para radja agama Indhoe kang manggon ing tengahing Tanah Jawa.
Mitoeroet tjarita: Sang Praboe Kertawidjaya ing Madjapait ikoe wis taoe krama karo poetri saka ing Cempa (tanah Indhiya Boeri). Poetri maoe kapernah iboe alit karo Radèn Rahmat oetawa Soenan Ngampel (sacedhaké Soerabaya). Soenan Ngampel kagoengan poetra kakoeng sidji, asma Soenan Bonang, lan poetra poetri sidji, asma Nyai Gedhé Malaka. Nyai Gedhé Malaka ikoe marasepoehé Radèn Patah oetawa Panémbahan Jimboen, yaikoe kang sineboet: Soeltan Demak kang kapisan. Soenan Ngampel lan Soenan Bonang ikoe dadi panoenggalané para wali. Para wali maoe kang misoewoer: Soenan Giri (sakidoel Gresik), ana ing kono yasa kedhaton lan mesdjid; Ki Pandan Arang (ing Semarang) lan Soenan Kali Jaga (ing Demak). Ing tahoen 1458 ing Demak wis ana mesdjid becik.
Padha padha boepati ing pasisir pati OEnoes ikoe kang koewasa dhéwé. Pati OEnoes oega kaseboet Pangéran Sabrang Lor. Ikoe poetrané Radèn Patah oetawa Panémbahan Jimboen. Ing tahoen 1511 Pati OEnoes mbedhah Jepara, Ing tahoen 1513 ngloeroegi Malaka. Enggoné tata tata arep ngloeroeg maoe nganti pitoeng tahoen lawasé. Lan bisa ngloempoekaké praoe kèhé nganti sangang poeloeh lan pradjoerit 12.000, apadéné mriyem pirang pirang. Nanging panémpoehé bangsa Portegis ing Malaka nggegirisi, nganti Pati OEnoes kapeksa bali lan ora oleh gawé. Pati OEnoes ing tahoen 1518 oega ngalahaké Madjapait nanging Madjapait dhèk samana pancèn wis ora gedhé. Koethané ora diroesak, moeng poesaka kraton bandjoer digawa menyang Demak sarta Pati OEnoes ngakoe nggentèni ratoe Madjapait. Ing tahoen 1521 Pati OEnoes séda isih enèm lan ora tinggal poetra. Kang goemanti rayi let sidji yaikoe Radèn Trenggana, djalaran rayiné toemoeli: Pangéran Sekar Séda Lèpèn, wis disédani poetrané radèn Trenggana, kang aran Pangéran Moekmin. Sadjroning djoemenengé Soeltan Trenggana (tahoen 1521 - 1550) karaton Demak koewasa banget, ngoewasani Tanah Jawa Koelon, ngerèh koetha koetha ing pasisir lor lan oega mbawahaké djadjahan Madjapait, sarta karaton Soepit OErang (Toemapel) oega bandjoer kapréntah ing Demak. Déné Blambangan ikoe bawah Bali. Pelaboehan bawah Demak akèh sing ramé, kayata: Jepara, Toeban, Gresik lan Jaratan. Gresik lan Jaratan ikoe sing ramé dhéwé, wong kang manggon ing kono loewih 23.000. Ing tahoen 1546 Soenan Goenoeng Jati kalawan Soeltan Trenggana arep mbedhah Pasoeroewan. Koetha Pasoeroewan bandjoer kinepoeng ing wadya bala, nanging doeroeng nganti bedhah, pangepoengé diwoeroengaké, djalaran Soeltan Trenggana séda cinidra déning sawidjining poenakawan santana, kang mentas didoekani. Poetrané Soeltan Trenggana akèh. Poetra poetriné padha krama oleh priyayi gedhé gedhé. Ana sing krama oleh boepati ing Padjang, kang asma: Adiwidjaya, yaikoe Mas Krèbèt, Ki Jaka Tingkir oetawa Pandji Mas. Poetrané Soeltan Trenggana loro: Pangéran Moekmin oetawa Soenan Prawata, lan Pangéran Timoer, kang ing besoeké dadi adipati ing Madoera. Soenan Prawata ikoe kang nyedani Pangéran Sekar Séda Lèpèn. Ing semoe poetrané Pangéran Sekar Séda Lèpèn kang asma Arya Panangsang arep malesaké sédané kang rama. Sakawit Arya Panangsang nyedani Pangéran Moekmin sagarwané, noeli poetra mantoené Soeltan Trenggana, ora oleh gawé, malah Arya Panangsang bareng dipapagaké perang, kalah nemahi pati. Adiwidjaya bandjoer ngoewasani Tanah Jawa: amboyong poesaka kraton menyang Padjang lan noeli didjoemenengaké Soeltan déning Soenan Giri. Nalika Adiwidjaya djoemeneng ratoe ana ing Padjang, blambangan lan Panaroekan kabawah ratoe agama Syiwah ing Blambangan, kang oega mbawahaké Bali lan Soembawa (tahoen 1575). Jadjahan djadjahan ing Padjang kapréntah ing pangéran (adipati) yaikoe: Soerabaya, Toeban, Pati, Demak, Pemalang (Tegal), Poerbaya (Madiyoen), Blitar (Kedhiri), Selarong (Banyoemas), Krapyak (Kedhoe sisih kidoel koelon, sakoeloné bengawan Sala. Ana ing tanah Pasoendhan karaton Padjang mèh ora doewè pangoewasa, djalaran ing tahoen +/- 1568 tanah Banten dimerdikakaké déning Hasanoedin, dadi tanah kasoeltanan.
Retrieved from "http://wikisource.org/wiki/Jv/Babad_Tanah_Djawi_lan_Tanah-Tanah_ing_Sakiwa-Tengenipoen/Bab_9"